Ketika Kata Tak Dapat Melukiskan Cinta.

Tidak terhitung berapa kali sudah aku melintasi tempat itu, tapi belum pernah sekalipun mencoba untuk masuk atau sekadar berhenti di depannya untuk melihat tempat apa itu.......sampai detik ini!

Tanggal 27 April 2014 tepatnya hari Minggu, kami sebagai anggota baru FLP Wilayah Aceh (Entah sudah sah atau belum -_-) di ajak oleh senior-senior untuk jelajah budaya ke Taman Putroe Phang yang berada di Wilayah Setui, Banda Aceh. Ketika mendapatkan sms untuk jelajah budaya ke situ langsung terlintas dalam benakku, "ini momen yang sangat tepat untuk melihat warisan Indatu." tapi inilah aku yang tidak pandai memanfaatkan  kesempatan yang sudah ada, satu dan lain hal akhirnya daku tidak jadi ikut untuk melihat warisan Indatu tersebut, ouuh Indatu maafkan cuco mu ini!.

Walaupun nggak jadi ikut jelajah budaya ke Taman Putro Phang, tapi semangat untuk tahu lebih dalam tentang Taman tersebut begitu menggebu-gebu, dua hari dua malam tanpa tidur tanpa minum plus tanpa makan (Majas Hiperbola Mode on) aku gugling di internet untuk cari tahu tentang sejarah Taman itu. Treng-treng berbagai tulisan menarik pun muncul terkait yang saya cari.

Oke langsung saja Bro and Sist, Agan and Aganwati, jadi Taman Putro Phang adalah sebuah Taman yang terletak di daerah Setui, Banda Aceh, Taman ini di bangun oleh Raja Aceh yang sangat termasyhur pada rentang tahun 1607-1636, siapa lagi kalau bukan Sultan Iskandar Muda. Sultan yang telah membawa Aceh bersinar di tengah pusaran dunia dan sekarang namanya di nobatkan menjadi Nama Bandara terbesar di Aceh, yaitu Bandara Sultan Iskandar Muda.

Sultan Iskandar Muda beristrikan seorang putri dari raja Pahang atau yang biasa di sebut dengan Putroe Phang oleh masyarakat Atjeh. Karena rasa cinta yang luar biasa yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, terbersitlah sebuah ide dibenak sang Sultan untuk membangun sebuah Taman yang sekaligus menjadi tempat pemandian sang permaisuri yaitu Taman Putro Phang. Pembangunan ini juga dilatarbelakangi oleh rasa rindu Putroe Phang akan kampung halamannya yang nun jauh di sana (istilah nggak kerennya : homesick). jadi dengan adanya taman tersebut paling tidak bisa sedikit menghibur sang Putroe sehingga homesick nya tidak naik level. :p

Akhir cerita terbentuklah sebuah taman nan megah yang mengalir di dalamnya Krueng Daroy yang konon katanya airnya itu sangat-sangat jernih, namun sayangnya air yang jernih itu tidak dapat kita nikmati lagi sekarang. saking beningnya sungai (baca : Krueng) tersebut Rafli kande melukiskannnya dalam lagunya.

Ie krueng daroy jeut keu seujarah
Bak putroe kamaliah manoe meu upa
iskandar muda geukuh krueng nyan
tempat meuseunang putroe di raya
iskandar muda geukuh krueng nyan
Tempat meuseunang hai raja di raja

Pucok krueng daroy lam glee mata ie
Ie jihile uteungoeh banda
meulikok likok puta lam taman putroe phang
Meu alon alon alang bak bineeh meuligoe raja

ie jihile jeurneh hana ban
Sang sang cit ie nyan lam kulam kaca
lagee krueng kal kausar lam syuruga lapan
Keu ie seumbahyang raja di raja

Adak musem krueng ie krueng hantom tho
meunan kheuh judoh iskandar muda
geu puga pinto khop ngeon gunongan
Keu dali ureung nyan keu lageum cinta

 Taman Putroe Phang sendiri selain memiliki Sungai yang eksotik juga memiliki beberapa bangunan antik, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini.






Keren kan Taman Putroe Phang? pastinya!
Maka dari itu mari sama-sama kita melestarikan peninggalan Indatu Geutanyoe, setidaknya dengan mengunjungi warisan sejarah tersebut, "kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi".

Montasik, 29 Arpil 2014, 08:39 AM.

Sumber :

http://www.google.com/search?q=putroe+phang&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ei=VO9eU_6gJNHKrAfhyYDADw&ved=0CAgQ_AUoAQ&biw=1024&bih=473

http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Putroe_Phang

http://liriklaguaceh.blogspot.com/2011/11/rafly-krueng-daroy.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar