Ini Bukan Norak, Sungguh!

Saya selalu bingung ketika ingin memulai sebuah cerita, dari mana saya harus memulainya, apakah dari waktu saya bangun tidur atau ketika sayaaa ….. ahh sudahlah.
Suatu ketika ditanggal 26 dan 27 Juni 2014 kami mahasiswa Unsyiah angkatan 2011 dan 2012, ditugaskan untuk mengikuti pelatihan kepenulisan yang diselenggarakan oleh Dikti (yang nggak tau apa itu dikti search di google). Kami terdiri dari enam orang (5 Cowok dan 1 Cewek) sebagai perwakilan Unsyiah.
Jam 08:30 wib  saya tiba di Hotel Grand Nanggroe, karena pelatihannya di hotel ini. Tak lama kemudian Adit yang tak lain juga perwakilan Unsyiah  muncul. Kami pun menunggu di depan Pagar Hotel karena nggak berani masuk, padahal katanya disuruh tunggu di Lobby.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya keberanian kami muncul untuk masuk, karena sudah nggak tahan nunggu diluar.
Dengan muka polos kaki ini melangkah menuju ke Lobby, sempat terpesona juga dengan kemolekan hotel grand Nanggroe, tapi itu hanya terjadi beberapa detik, karena kami nggak mau di kira Newbie sama pengunjung yang lain.
Setelah menunggu beberapa saat seorang petugas hotel menyapa kami dan menanyakan apakah kami peserta pelatihan kepenulisan dari Dikti, kami pun sepakat mengangguk.
Petugas itupun mempersilahkan kami masuk ke dalam salah satu ruang yang semacam tempat meeting gitu. Ternyata panitia dari Dikti sudah duluan berada dalam ruang. Dengan malu-malu kucing kami masuk ke dalam ruang pelatihan.
Panitia dari Dikti ini ternyata marah-marah eh ramah-ramah maksudnya, mereka mengajak kami ngobrol dan kami sok-sok polos menjawab sambil senyam-senyum (Ini fiktif kalau kami jawabnya sambil senyam-senyum).
Tak lama kemudian peserta yang lainnya pun tiba, ternyata yang ikut pelatihan ini tak hanya dari unsyiah, tapi juga dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Politeknik dan Unimal Lhoksemawe. Setiap kampus mengirimkan pesertanya sebanyak enam orang.
Waktu itu mahasiswa Unimal agak telat masuk ke ruangan, jadi sambilan menunggu orang ini kami dipersilahkan sarapan pagi terlebih dahulu. Ketika sampai ditempat makan, tidak ada satupun yang mengambil makanan atau minuman, semuanya hanya duduk sambilan ngobrol, kecuali Bang Aula yang juga dari Unsyiah dengan santainya sarapan dan minum Teh.
Perkiraan saya waktu itu pasti ini pengalaman kami semua pertama sekali ke hotel, jadi sistem yang berlaku belum tahu, misalnya kalau makan tidak perlu bayar karena sudah masuk dalam paket penginapan, jadi kami hanya bersantai ria sambil ngobrol. Sungguh terlalu, padahal perut sudah memberontak, tapi untung waktu itu saya sudah makan.
Tak berapa lama semua peserta sudah hadir, pelatihan pun akan segera di mulai, yang menjadi pemateri hari pertama adalah Mas Husnil (Wartawan dan Penulis) dan Mas Anton (Essais, Cerpenis, dll). Logat berbicara mereka cukup lembut, apalagi Mas Anton. Giliran peserta yang berbicara cukup bugam-bugam, jadi kentara sekali perbedaan logat atau intonasi berbicaranya.
Pada sesi pertama pelatihan kami disuguhkan film Freedom of writers yang telah meraih berbagai penghargaan daerah, termasuk penghargaan dari Gubernur Aceh, dari Walikota dan sebagainya (Jangan Percaya ya).
Jadi Film ini bercerita tentang perjuangan seorang Guru mendidik sekelompok anak yang merupakan korban perkelahian antar geng. Jadi dalam kelas terdapat dua kubu yang tidak pernah akur dan saling membenci, bahkan sering melakukan tindak anarkis. Anak-anak ini dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan yang penuh dengan permusuhan, pertumpahan darah, kebencian dan lain sebagainya.
Hingga ibuk guru ini, kalau nggak salah namanya Erin, dengan segala cara yang ia tempuh berhasil membuat mereka bersatu. Cara yang paling ampuh ia gunakan adalah ketika anak-anak ini diminta untuk menuliskan semua tentang keseharian mereka di sebuah buku dan mengumpulkannnya setiap hari di sebuah lemari (semacam Loker), lebih lanjutnya nonton sendiri aja ya. Intinya mereka bisa bersatu kembali setelah segenap daya dan upaya yang Ibuk Erin ini lakukan.
Setelah adegan tonton menonton film, kami diminta untuk menyimpulkan keseluruhan cerita dari film tersebut, berhubung saya sudah membaca resensi itu film jadi langsung saja dengan ke pede an yang tinggi jari termanis saya ancungkan…… bla bla bla bla bla…begitulah kesimpulan yang saya simpulkan.
Pukul 14:00 Wib kami check in hotel, saya kebagian kamar dengan Aditya Fitrianto, yang nggak kenal sama beliau baca aja biografinya di wikipedia, kalau nggak ada silahkan tanya sama orangnya langsung.
Waktu mau masuk ke kamar rupanya banyak yang nggak bisa buka pintunya, termasuk juga si Udin dan Uno (Nama sengaja disamarkan dengan alasan provokasi), karena nggak tega melihat adegan itu lama-lama saya pun turun tangan, dengan mengandalkan pengalaman buka pintu kamar di rumah, saya pun mencoba membuka kamar mereka, dan akhirnya pintu terbuka dan kamipunloncat-loncat kegirangan.
Sekedar informasi untuk yang belum tahu saja, bahwasanya pintu kamar hotel itu dibuka menggunakan kartu (Sejenis Kartu ATM), jadi tinggal di masukkan saja kartunya, tunggu beberapa detik lalu tarik kembali maka pintu kamarnya pun akan terbuka, hebatkan???, tapi ini hanya berlaku di Hotel Grand Nanggroe ya, kalau hotel Grand lainnya ana kurang faham juga. (Pengalaman Norak abis, haha).
Masalah satu terselesaikan timbul masalah yang lain, kali ini masalahnya menimpa saya dan Adit, coba tebak masalahnya apa??
Masalahnya adalah kami nggak tahu bagaimana menghidupkan lampu Hotel (Ketawa dulu), padahal sakelar dan tombol untuk menghidupkan lampunya sudah kami peh-peh, tapi tidak mau hidup juga.
Kami pun hampir histeris bersama Adit karena lampu nggak mau hidup (Alay Mode On), sempat terbersit ide untuk menelpon resepsionis, tapi nggak jadi karena tiba-tiba datang seseorang (lupa siapa, sungguh) dan mengatakan kalau mau menghidupkan lampu, kartu yang tadi dipakai untuk masuk tadi dimasukkan ke dalam tempat ini, ujarnya sambil menunjukkan sebuah tempat yang menempel di dinding sebelah kiri pas masuk ke kamar, dan akhirnya lampu pun hiduuuuuuppppp. Untung kami tidak menghujat PLN, kalau sampai kami menghujat PLN dan petugas mereka datang ke kamar kami, bisa habis kami (khem dile sige).
Singkat cerita kami pun mulai bisa beradaptasi dengan kehidupan di hotel, tak seperti awal tadi. Dan kabar gembiranya lagi kami mendapatkan kawan baru dari pelatihan ini yang begitu luar biasa, mereka ramah-ramah tidak marah-marah, suka tersenyum dan suka nabung juga katanya.
Bagian mendapatkan kawan baru inilah yang saya suka, karena banyak kawan itu seru. Bisa mendapatkan informasi terkait daerah tempat tinggal mereka masing-masing dan masih banyak lainnya, keuntungan yang bisa kita dapatkan kalau banyak kawan. Makanya jangan sombong-sombong ya biar dapat banyak kawan.
Ada banyak hal yang kami dapatkan dari pelatihan ini, dari mulai pengalaman nginap dihotel, dapat kawan baru, dapat ilmu yang luar biasa dari tiga orang pemateri kece (Mas Anton, Mas Husnil dan juga Bang Aiyyub Serambi Indonesia). Intinya Bidikmisi telah mengantarkan kami semua untuk mendapatkan hal-hal diatas yang belum tentu bisa didapatkan oleh anak non bidikmisi (Sombong dikit). Jadi bagi pembaca semua yang sudah membaca artikel yang tidak seberapa penting ini, tolong sampaikanlah kepada adik-adik yang mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang masih terkendala biaya untuk mengurus beasiswa Bidik Misi, karena dengan Bidik Misi kita tidak perlu membayar uang kuliah sepeserpun dan malah diberikan lagi uang saku yang lumayan besar tiap bulan. Dengan Bidikmisi Biaya menjadi bukan sebuah kendala untuk merajut asa setinggi Cakrawala.
Bidikmisi, Memutus mata rantai kemiskinan!
Salam dari Mahasiwa Penerima Bidikmisi.
*Newbie = istilah dalam bahasa Inggris untuk melukiskan seseorang yang baru pertama sekali mencoba sesuatu.
*Bugam = keras, kaku. Istilah yang biasa digunakan dalam bahasa Aceh untuk melukiskan seseorang yang kurang lemah lembut dalam mengerjakan sesuatu.
* peh-peh = Istilah dalam bahasa aceh untuk melukiskan suatu perbuatan memukul yang dilakukan berulang-ulang dengan daya yang tidak begitu keras.
* khem dile sige = Senyum dulu sekali
*semua peserta yang ikut ini merupakan mahasiswa penerima Bidikmisi.

10 komentar:

  1. seruuuuuu ..... gaya menulisnya juga asyik punya yaa... ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.....trmksih atas kunjungannya.
      salam kenal....

      Hapus
  2. Balasan
    1. Thx Yan atas kunjungannya.....rajin2 maen ke sini ya Yan! hehe

      Hapus
  3. Balasan
    1. Adit sorry kagak Ijin dulu catut nama you.....
      dit kpan2 ajarin aku cara desain blog ya.

      Thx Adit kunjungannya!

      Hapus
  4. gak ada paragraf, tulisannya kecil. saya yang tua begini agak malas membaca,.. yohuhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah berapa Si nyak nya bang??
      jgan ngaku2 tua bang rio, nantik nggak ad yang mau sma Bang rio. hehe

      Thx Bang atas knjungannya! rajin2 singgah ya bang....kwkw

      Hapus
  5. Gaya tulisannya aku suka rahmat :) Go A Head :D

    BalasHapus