Aceh Dalam Potret Bencana


Banyak hal atau tanda terkait bencana, misalnya ketika Tsunami menerjang Aceh 2004 silam. Kawanan burung terbang berarakan ke suatu arah yang dilihat oleh salah satu komandan tentara yang hendak mengantarkan anak buahnya pulang ke kampung halaman, melalui pelabuhan Ule Lheu. Waktu itu sang komandan langsung tertegun ketika melihat kawanan burung itu terbang bergerombolan dalam jumlah yang banyak. 

Seketika beliau teringat pesan orang tuanya bahwa kalau ada segerombolan binatang dalam jumlah besar yang bersikap tidak biasa maka pertanda akan terjadi bencana, tak lama kemudian apa yang disampaikan orang tuanya benar adanya. Sebuah gelombang raksasa menghantam daratan. Untung sang komandan bergerak cepat menjauh dari pantai dan akhirnya selamat bersama dengan anak buahnya.

Tak jauh berbeda dengan yang terjadi di kampung halamanku, ketika bencana maha dahsyat ini terjadi, umurku baru 11 tahun. Waktu gempa sedang mendera, terlihat segerombolan bebek dengan begitu tergesa-gesa pulang ke kandangnya. Bebek-bebek ini tampak begitu gelisah, melihat tingkah bebek begitu, seorang tetua gampong langsung mengatakan bahwa akan terjadi bencana. Tak beberapa lama kemudian benar adanya, langsung datang kabar bahwa Banda Aceh dan sekitarnya telah di hantam gelombang tsunami yang kita kenal sekarang.

 
 Masyarakat menyelamatkan diri menjelang Tsunami 26 Desember 2014
(khabarsouthasia.com, diakses tanggal 12 Agustus 2014)

Lain yang terjadi di kampung ku lain lagi yang terjadi di Simeuleu. Ketika musibah gempa dan Tsunami menyapa, daerah ini termasuk dalam salah satu daerah yang paling sedikit korban, yaitu tujuh orang. Padahal Simeleu merupakan daerah yang paling dekat dengan titik pusat gempa dan Tsunami. Hal ini tentu menjadi tanda tanya tersendiri kenapa jumlah korban bisa sangat sedikit.
Setelah di kaji ternyata Simeuleu menerapkan prinsip belajar dari pengalaman. Merunut kepada sejarah, Simeuleu pernah di hantam Tsunami pada tahun 1907. Waktu itu banyak korban berjatuhan karena ketidaktahuan masyarakatnya akan bencana Tsunami. Hingga bencana itu kembali terulang di tahun 2004 korban yang berjatuhan pun tidak seperti tahun 1907 lagi, walau kerusakan fisik tak dapat di hindarkan.


Bencana tsunami Aceh 26 desember 2004
(google, diakses tanggal 12 Agustus 2014)

Di Simeuleu orang mengenal Tsunami dengan istilah “Smong”. Orang-orang tua disana selalu saja mewariskan cerita tentang Smong yang pernah meluluhlantakkan Simeuleu pada tahun 1907 silam kepada anak cucunya. Sehingga ketika gempa 2004, melihat air laut surut masyarakat disana langsung mencari tempat-tempat yang tinggi, seperti perbukitan untuk menyelamatkan diri.
Istilah “Smong” memang sempat booming ketika musibah Gempa dan Tsunami melanda Aceh 2004 silam. Bahkan kata ini sempat di ajukan dalam kamus besar bahasa Indonesia untuk menjadi kosa kata dalam Bahasa Indonesia. Orang Simeuleu sendiri tentu patut berbangga dengan kearifan lokal daerahnya.
Lalu apakah masyarakat Simeuleu dan di daerah lainnya dalam mengantisipasi bencana cukup hanya mengandalkan cerita tentang Smong. Jika hanya mengandalkan cerita tentang Smong memang banyak jiwa yang akan terselamatkan, tapi tidak dengan bangunan atau harta benda lainnya.


Mesjid Raya Baiturrahman pasca Tsunami
(wartaaceh.com, diakses tanggal 13 Agustus 2014)

 
Sebuah perahu nelayan, saksi bisu dahsyatnya musibah Tsunami 26 Desember 2004
(google.com, diakses tanggal 13 Agustus 2014)

Mitigasi Bencana
Menurut UU No. 24 tahun 2007 bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana). Pada dasarnya mitigasi bencana bertujuan untuk mengurangi dampak dari bencana itu sendiri.
 
 
Pusat riset tsunami dan mitigasi bencana Ule Lheu, Banda Aceh

Dalam pelaksanaannya, mitigasi bencana memiliki tiga unsur utama, yaitu :
  1. Hazard assestment (penilaian bahaya), merupakan parameter untuk identifikasi populasi dan aset yang berpeluang terkena dampak bencana. Ruang lingkup dari unsur ini adalah karakteristik sumber bencana, peluang terjadinya bencana, dan data kejadian bencana.
  2. Warning (peringatan), berperan sebagai indikasi awal yang memberikan informasi kepada masyarakat apabila terjadi bencana. Proses ini menggunakan media komunikasi sebagai sarananya dan harus dilakukan secara cepat, akurat dan tepat sasaran 
  3. Preparedness (persiapan), berpedoman pada dua unsur sebelumnya, yaitu Hazard assestment dan Warning dimana pada poin ini kita dituntut untuk mengetahui tentang proses evakuasi dan kapan saatnya kembali ketika situasi aman.


1      Tsunami Drill
Banda Aceh terasa semakin siap dalam menghadapi bencana, hal ini terlihat dari terpilihnya kota Madani ini sebagai tempat di adakan simulasi bencana pada tahun 2008 silam. Rangkaian simulasi ini berlangsung dengan aman dan tertib, dimana masyarakat di ajak secara langsung untuk di edukasi bagaimana caranya menyelamatkan diri ketika musibah gempa dan tsunami menyapa. Dalam menyelamatkan diri masyarakat di arahkan menuju escape building yang memang telah di desain sebagai gedung penyelamatan ketika bencana. Banyak hal yang bisa di dapatkan dalam pelatihan ini, tak terkecuali upaya ketika menuju escape building dimana masyarakat di edukasi kapan harus berlari dan kapan harus menggunakan kendaraaan. Karena berdasarkan pengalaman Tsunami 2004 silam jalan yang menjadi akses penyelamatan diri malah macet karena dipenuhi kendaraan. Semoga Tsunami drill ini bisa terus di lakukan mengingat Aceh merupakan kawasan ring of fire.

2    Bangunan Tahan Gempa
Tsunami 2004 memang telah memporak-porandakan Aceh, bangunan yang tersisa bisa di hitung dengan jari. Hal ini tentu menjadi PR bagi kita bagaimana merancang bangunan yang tahan gempa dan tsunami. Jepang sebagai negara yang langganan bencana seakan sadar akan posisinya, tak mengherankan ketika gempa dengan kekuatan 6,9 skala richter pada tahun 2013, tak sedikitpun bangunan di sana mengalami kerusakan. Tentu kita juga bisa seperti Jepang membuat bangunan yang tahan gempa, sehingga jumlah korban akibat bangunan yang runtuh bisa ditekan dan kerugian dari segi materi bisa di minimalisir. Gedung ICT unsyiah contohnya yang telah di desain sebagai bangunan tahan gempa, dengan mempunyai roda di bagian bawahnya sehingga ketika gempa bangunan bergoyang layaknya sebuah ayunan yang beroda.
 Menanam Manggrove 
Kita tentu pernah melihat aksi sebuah komunitas atau organisasi yang menanam mangrove. Seperti aksi Mahasiswa FISIP Unsyiah melakukan aksi menanam 1000 pohon mangrove di kawasan kajhu, Aceh Besar. Ternyata  Mangrove mempunyai manfaat yang sangat besar dalam kehidupan. Mangrove dapat menjaga garis pantai agar tetap stabil dan kokoh dari abrasi air laut dan melindungi pantai dan tebing sungai dari proses erosi atau abrasi serta menahan atau menyerap tiupan angin kencang dari laut ke darat pada malam hari. Masih segar juga dalam ingatan kita tentang sosok Martunis yang selamat dari Tsunami karena bertahan selama 7 hari di atas pohon Mangrove, Martunis sekarang sudah di nobatkan sebagai duta Mangrove oleh kadis kehutanan Aceh.

Menghindari Dampak Tsunami

a.  Sebelum terjadinya tsunami
·         Mengenali apa yang disebut tsunami
·         Memastikan struktur dan letak rumah
·         Jika tinggal atau berada di pantai, segera menjauhi pantai
·         Jika terjadi getaran atau gempa bumi, segera menjauhi pantai
·         Selalu sedia alat komunikasi

 
Simulasi peringatan Tsunami di Banda Aceh, sebagai bentuk pencegahan dini Tsunami
(thejakartapost.com, diakses tanggal 11 Agustus 2014)

b.  Saat terjadi tsunami
·         Bila berada di dalam ruangan, segera keluar untuk menyelamatkan diri
·         Berlari menjauhi pantai
·         Berlari ke tempat yang aman atau tempat lebih tinggi

c.  Sesudah terjadi tsunami
·         Periksa jika ada keluarga yang hilang ataupun yang terluka
·         Minta pertolongan jika ada keluarga yang yang hilang atau terluka
·         Jangan berjalan di sekitar daerah tsunami atau pantai, karena kemungkinan terjadi bahaya susulan

 
Museum Tsunami Aceh, merupakan salah satu sarana & prasarana mitigasi dan penanggulangan bencana Tsunami Provinsi Aceh
(google.com, diakses tanggal 15 Agustus 2014)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar