Jangan Tanya Salah Siapa!




Sekarang saya berstatus sebagai mahasiswa semester 5 di universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh.  Kegiatan sehari-hari sebagai seorang mahasiswa tentu pulang pergi ke kampus, di samping kegiatan yang lain. Tentu bukan suatu kebetulan kampus Unsyiah posisinya berada di daerah Darussalam.

 Merunut ke makna dari Darussalam itu sendiri yaitu “Negeri yang aman”, namun timbul pertanyaan, apakah Darussalam sekarang yang ditempati oleh dua kampus raksasa Aceh sudah bisa di katakan sebagai negeri yang aman, bebas maksiat, tenang untuk menimba ilmu dan aman-aman yang lainnya?

Menjawab pertanyaan di atas tentu tidak dengan data abal-abal atau berdasarkan penilaian subjektif, dibutuhkan pengamatan dan penelitian. Saya pernah menanyakan kepada beberapa orang teman yang nge-kost dan tinggal di Darussalam mengenai apakah mereka merasa nyaman tinggal di Darussalam.

Rata-rata jawabannya adalah tidak, yaitu tidak nyaman, hanya kemudahan akses ke kampus yang membuat mereka bertahan untuk tetap tinggal di situ. Saya pun merasa tidak nyaman ketika harus menyusuri gang-gang Darussalam, kesannya begitu kumuh.

Namun bukan karena kekumuhannya yang membuat saya tidak habis pikir, tapi mengenai kebebasan anak-anak kost yang tinggal di Darussalam yang sudah di luar batas kewajaran. Berhubung saya kuliah di Unsyiah tentu Darussalam adalah kawasan yang hamper tiap hari saya kunjungi, terkadang mengunjungi kost kawan atau keperluan lainnya yang mengharuskan saya menapaki gang-gang di sana.

Mungkin sudah tidak terhitung berapa kali saya melihat anak-anak kost yang perempuan berdua-duan dengan lelaki di depan kost perempuan, terkadang saya melihat mereka berdua ngobrol sambil senyum-senyum, terkadang juga saya melihat mereka mulai menyentuh tangan satu sama lain. Dan itu terjadi di siang hari, kalau malam ya bayangkan saya sendiri apa yang akan terjadi.

Miris tentu melihat fenomena seperti ini, ketika Banda Aceh di gadang-gadang menjadi kota Madani yang berlandaskan syariat Islam, tapi kelakuan daerah atau kawasan yang mayoritas di domisili oleh kaum pelajar begitu jauh dari nilai-nilai syariat Islam.

Saya, anda atau siapapun yang pernah kuliah di Daerah Darussalam pasti tak akan menampik fenomena ini, tapi fenomena ini seakan di biarkan terus-terusan seperti itu, mungkin kebebasan anak-anak kost ini akan terus meningkat levelnya seiring kemajuan zaman dalam arus modernisasi.

Ini adalah tanggung jawa saya dan anda semua, terkhusus pemimpin-pemimpin yang punya power untuk mencegah itu semua. Memang fenomena ini tidak hanya terjadi di Darussalam, daerah-daerah lain juga sedang mengalami krisis demikian rupa. 

Tapi Darussalam sebagai kota pelajar seharusnya menjadi model bagi daerah-daerah lain dalam penerapan sebagai kota Madani.

Lalu timbul kembali pertanyaan terkait fenomena di atas, apakah Darussalam sudah menjelma sesuai namanya? Saya rasa masih jauh panggang dari api. 

Fakta menunjukkan mayoritas penduduk atau penghuni Darussalam adalah dari golongan orang-orang berpendidikan, misalnya mahasiswa, pelajar atau Dosen. Lalu apa yang mereka pelajari? Bermacam-macam ilmu tentunya. Tapi kenapa kelakuan kaum pelajar itu seperti tidak terpelajar, berdua-duan dengan lelaki yang bukan muhrim. Mungkin mereka tidak di ajarkan nilai-nilai agama ya? Atau sistem pengajaran kita yang salah.

Ya, saya rasa sistem pengajaran atau pendidikan kita lah yang salah, sistem pengajaran kita tidak menitik beratkan pada perbaikan perilaku, sehingga kita lihat ketika masa TK dan SD mereka sopan-sopan dan tidak berperilaku yang macam-macam, tapi menginjak usia remaja mamasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi perilaku mereka semakin tidak terkontrol.

Masa SMP sudah tau buat video mesum, kalau masa SMA lebih lagi, hubungan di luar nikah sudah biasa. Kalau sudah di perguruan tinggi jangan Tanya lagi. Padaha Belajar menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah proses perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.

Mengenai sikap-sikap mereka yang berdua-duan di depan kost di siang hari apakah bisa dikatakan terpelajar? Kalau dikatakan tidak terpelajar buktinya mereka statusnya pelajar, mereka kuliah dan belajar, tapi kenapa mereka tidak tahu kalau berduan dengan non muhrim itu di larang dalam Agama dan bertentangan dengan budaya kita orang Aceh. Atau jangan-jangan mereka tidak mau tahu.

Ah semakin malas saja membahas mereka-mereka itu, tahun ajaran baru akan segera di mulai, untuk orang tua yang anaknya akan kuliah di Darussalam agar lebih menjaga anak-anaknya agar tidak terjerumus ke dalam lembah hitam yang penuh dengan kenistaan. Lebih baik sejak dini diberikan pemahaman agama yang mantap agar punya pondasi yang kuat, sehingga tidak mudah terpengaruh dengan segala rayuan lingkungan sekitar.

#Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan Darussalam atau anak kost, tapi ini hanya sebuah perenungan untuk kita semua akan perbaikan ke depan. Bukankah kemaksiatan itu akan mendatangkan azab dari Allah swt??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar