Stop “Pembodohan Massal” Terhadap Junior


Saya benar-benar bingung apa yang ada dalam pikiran mereka, mengapa begitu tega membentak dan membodoh-bodohi juniornya. Apakah mereka kaum yang tidak terdidik? Tapi buktinya mereka sedang menggapai gelar sarjana bahkan ada yang sudah sarjana. Aahh…..Aku jadi semakin membenci kelakuan mereka waktu itu.

Matahari tersenyum senang pagi itu. Semangat pagi sebagai mahasiswa baru seakan menggelora dalam raga ini. Di pagi yang cerah, kami mahasiswa baru di suruh kumpul di kampus untuk mengikuti kegiatan Silaturahmi (katanya). Pagi yang indah untuk sebuah kegiatan silaturahmi.

Setelah sebelumnya kami membayar sejumlah uang untuk kegiatan silaturahmi ini, kami diberikan sebuah kaos berkerah. Ada dua bukti pembayaran waktu itu. Satu untuk kegiatan silaturahmi sesama teman satu fakultas dan satu lagi untuk acara silaturahmi satu jurusan. Tapi kali ini fokus tulisannya adalah untuk acara silaturahmi satu jurusan dulu.

Jadi ceritanya 2012 adalah tahun dimana saya menjadi mahasiswa baru di Ilmu Komunikasi, FISIP, Unsyiah. Sebagai maba (Mahasiswa Baru) kami di wajibkan ikut acara silaturahmi yang di buat oleh senior-senior di prodi Ilmu Komunikasi. Hal ini juga berlaku bagi seluruh mahasiswa yang berada di lingkup Universitas Syiah Kuala.

Truk yang berdindingkan kayu mulai mengangkut kami, perlahan, hingga kecepatannya terus bertambah. Jalanan aspal yang hitam menjadi teman dalam perjalanan ke sebuah tempat yang masih menjadi misteri.

Kami pun tiba di tempat tujuan. Ternyata tempatnya adalah SMK di daerah Krueng Raya, Aceh Besar. Tak begitu wah bagiku yang memang sudah terlalu sering melewati tempat ini. karena kecewa dengan tempat di adakannya acara, aku jadi berharap kalau acaranya nanti bakalan seru. Padahal salah satu motivasiku mengikuti acara silaturahmi ini adalah karena tempatnya lah. Padahal saya berharap acaranya di buat di tempat-tempat yang ada sungai atau hutan.

Sesampainya di sana kami mulai berbaris, berhitung pun di mulai 1…., 2…. , 3…., hingga sampai di angka 70. Berarti dari total 100 lebih mahasiswa baru Komunikasi hanya 70 orang yang ikut serta. Yang lain kemana? Wallahu’alam.

Kami pun di arahkan ke sebuah lapangan volley yang berada di sebelah kiri sekolah, bagaikan rombongan sapi yang di arak oleh tuannya kami menurut saja. Toh waktu itu kami masih junior yang masih lugu dan polos. Ternyata di sana sudah menunggu ketua jurusan yang waktu itu di jabat oleh Dr. Hamdani M. Syam, M.A, dan beliau yang membuka acara kegiatan silaturahmi ini.

Setelah proses seremonial selesai dan Mr. Ham pulang, aroma-aroma tidak sedap pun mulai tercium. Tidak ada lagi senyum atau tertawaan. Kami kembali di suruh berbaris dengan rapi di lapangan. Barang bawaan yang kami bawa mulai di geledah satu persatu. Yang bawa minyak wangi, bedak, handphone atau sejenisnya yang memang tidak di suruh bawa, di ambil sama panitia. Untung saja waktu itu saya tidak membawa perlengkapan yang aneh-aneh. Jadi aman-aman saja.

Hari-hari menjadi mahasiswa baru yang di ospek pun di mulai. Banyak kenangan memang ikut acara ini (Selanjutnya di sebut : ospek). Dari mulai hal-hal konyol sampai membuat emosi tingkat tinggi. Masih teringat dengan jelas ketika kami di bangunkan tengah malam lalu di suruh jalan ke setiap pos yang telah di tunggui oleh leting-leting tua atau senior-senior dari tahun 2007 dan seterusnya.

Ketika itu semuanya gelap dengan hanya di terangi sinar lilin yang kami bawa. Di tambah sinar rembulan yang malu-malu mengintip dari balik awan. Di pos pertama kami dikerjai dengan di suruh minum air garam, apa-apaan ini?, sungguh nggak ada kerjaan senior-senior ini. pikirku waktu itu. karena setelah saya search di google ternyata meminum air garam dalam jumlah yang banyak bisa membahayakan tubuh terutama bagi kesehatan gigi.

Ketika itu saya menolak untuk minum karena sudah curiga pasti tidak beres, katanya air kumur-kumur. Padahal sebelumnya saya sudah di kasih tau sama kawan menjelang keberangkatan kalau itu air garam. Karena menolak untuk minum di paksalah sama senior untuk meminumnya (yang pah ta yu jep bak awaknyan)1, dengan ketidakikhlasan tingkat satu akhirnya saya meminumnya juga . Rasanya sungguh asin tingkat tinggi, memang kurang kerjaan yang menyuruh saya minum air garam itu. Ta lake doa manteng nye meninggai beu luwah kubu bang nyan2.

Yang menjengkelkan itu adalah ketika kita sudah minum dan keasinan mereka malah ketawa. Namun tetap ada pelajaran yang bisa di petik dari pos pertama ini, yaitu jangan sembarangan mau minum air yang ditawarkan oleh orang yang tidak kita kenal. Apalagi ditengah malam buta.

Dari pos pertama menuju pos selanjutnya kami di suruh jalan berdua sama kawan. Penderitaan ternyata masih panjang, mungkin akan banyak luka dan air mata di pos-pos selanjutnya (Lebay bacut3). Di pos kedua ini kami di suruh push up dengan posisi bertahan, sampai menunggu aba-aba selanjutnya dari senior yang mukanya tidak nampak jelas berhubung gelap.

Setelah melewati pos push up kami di hadapkan lagi sama pos “serba salah”, jadi di pos ini apapun yang kita jawab tidak akan ada benarnya di mata dan telinga mereka. Mungkin mereka tidak pernah mendengar istilah “benar” dalam hidup (kalau kata Upin & Ipin “kasian 3x”). jadinya serba salah lah ketika menjawab pertanyaan yang di ajukan. Pelajaran yang dapat di ambil dari pos ini adalah jangan meladeni orang-orang yang memang tidak ada kerjaan karena hanya membuang-buang waktu, lebih baik diam saja.

Untuk menuju pos selanjutnya kami diharuskan berjalan jongkok walaupun aki ka kuweut lheuh4 tapi tetap juga harus berjalan jongkok. Waktu itu kami berdoa semoga saja ini pos terakhir. Ternyata di depan masih ada dua pos.
Di pos kedua terakhir ternyata nggak kalah ekstrimnya,
 “mau apa kau ke sini?” Tanya seorang senior yang sepertinya berasal dari Tanah batak meubule lidah5.
“Di suruh sama senior yang dari pos sebelumnya bang.” Jawab kami berdua kompak.

“ouuhh, di suruh,” sambil manggut-manggut dengan mata melirik ke kiri “ya ya,” jawab si Batak ini dengan memegang sesuatu dalam piring yang berisi kayak dedaunan muda yang telah di giling. “kau mau nggak coret muka kawan kau itu pakai ini?” sambil menunjuk isi dari piring yang ia pegang kepadaku.

“nggak mau bang, buat apa saya mengotori wajah kawan saya dengan kotoran itu.” Jawabku pasrah.
“berhubung kawan kau itu” ia menunjuk ke arahku “nggak mau melumuri wajah kau dengan kotoran ini,” sambil menunjukkan dedaunan yang di giling yang lebih mirip kotoran sapi yang baru saja di keluarkan. “sekarang kau kotori wajah kawan kau itu dengan kotoran ini” sembari menyodorkan kotoran dalam piring itu kepada kawanku.

Yang nggak enaknya, kawan aku itu mau saja dia melumuri wajah ku dengan kotoran yang dipegang sama senior  itu, memang sih waktu itu aku belum begitu kenal sama kawan yang satu ini. Cuma tahu nama dan asalnya saja. Akhirnya ku pasrahkan wajahku di lumuri dengan kotoran abal-abal tersebut. Jadilah malam itu sekayak orang sangak dengan muka penuh kotoran abal-abal. Walaupun wajah sudah penuh dengan kotoran tetap ada pelajaran yang bisa di petik dari pos ini yaitu jangan menolak kesempatan yang di berikan. Karena kesempatan itu seringnya tidak datang dua kali.

Akhirnya kami sampai juga di pos terakhir, di pos terakhir ini sudah terlihat para peserta berbaris. Ada yang rambutnya sudah di potong sana-sini maksudnya di potong di bagian tertentu saja. Ada yang hanya di potong poninya saja dan lain sebagainya.

Banyak hal nggak enak di pos terakhir ini, seperti kami di suruh ngemil satu buah permen yang diberikan secara bergilir. Wah bayangkan saja permen yang sudah di emut-emut oleh banyak orang terus di suruh emut lagi sama kamu. Hal ini jadi mengingatkanku ketika ikut latihan paskibraka di sekolah dulu, hari pertama di kerjai seperti itu besoknya langsung nggak datang latihan lagi.

Di pos terakhir ini yang paling ku ingat adalah ketika salah seorang kawanku bersenandung ria membacakan shalawat dengan suara lantang di tengah gelapnya malam. jadi suaranya terdengar sangat jelas karena sudah tengah malam. salut sama kawan yang satu ini, di saat yang lain ketika di suruh maju ke depan malah bernyanyi dengan lagu-lagu pop tapi si kawan ini milih untuk bershalawat. Dan Alhamdulillah sekarang dia sudah mondok di salah satu dayah yang ada di Bireun dengan meninggalkan dunia perkuliahan. Salut banyak-banyak.

Dan ke esokan harinya adalah hari terakhir acara ospek. Begitu banyak hal konyol yang telah terlewati selama 2 hari mengikuti acara ini. ternyata menjelang perpisahan untuk kembali ke peraduan masing-masing kami semua kembali di suruh berkumpul di lapangan beserta panitia.

Ternyata para panitia ingin menampilkan sebuah aksi yang biasanya hanya di lakukan oleh profesional. Salah seorang panitia menginjak dan loncat-loncat di atas beling yang telah di gelar di atas sebuah tikar. Peserta pun histeris terutama dari kalangan perempuan. Kalau peserta dari laki-laki sih biasa aja, tapi ada juga yang lelaki yang histeris. Mungkin itu tidak seutuhnya laki-laki kali ya.

Ternyata panitia tidak mau kalau mereka saja yang menginjak beling, katanya tidak sah menjadi mahasiswa komunikasi kalau tidak melakukan prosesi menginjak beling ini. skenario apa lagi coba yang hendak dimainkan? Dan apa hubungannya jadi mahasiswa Komunikasi dengan menginjak beling? Memangnya waktu kuliah ada mata kuliah “menginjak beling?”.

Suasana di buat sedramatis mungkin. Dua buah ambulance telah di siagakan seolah-olah kalau ada yang terluka bisa segera di tangani.
“semua peserta tolong di tutup matanya,” teriak salah seorang pantia melalui pengeras suara. Memberikan aba-aba kepada panitia yang lain untuk menutup mata kami dengan kain hitam.
“hikz…. Hikz….., aku takuuuutt” ujar salah seorang cewek di belakangku dengan ekspresi seperti orang takut namun manja.

Aku yang berada di depannya mesem-mesem saja sambil sesekali menenangkan dia nggak usah takut. Ketika semua peserta di tutup matanya selang beberapa saat teriakan-teriakan histeris mulai membahana.

Rupanya yang membuat prosesi menginjak beling ini menjadi konyol adalah ketika para peserta di suruh injak beling replikaan. Jadi ceritanya peserta yang sudah berbaris rapi setelah di tutup semua matanya di angkat satu persatu oleh panitia, terus kakinya di masukkan dalam sebuah dus sambil di goyang-goyangkan. Isi dari dus tersebut kalau nggak salah adalah dedaunan yang sudah kering.

Maklum waktu itu kan matanya di tutup. Namun intinya yang kami injak adalah bukan beling melainkan replikanya yang ketika terinjak menjadi geli. Waktu itu ingin rasanya tertawa sekeras-kerasnya Cuma nggak jadi mengingat ada senior-senior di situ. Dan yang menjerit-jerit tadi juga adalah dari panitia yang hendak menakut-nakuti.

Saya sebagai mahasiswa ilmu komunikasi sungguh menyayangkan kalau acara silaturahmi tidak di isi dengan program-program yang lebih bermanfaat. Kenapa harus ada bentakan? Supaya juniornya hormat kepada senior? Kalau iya berarti pemikirannya perlu di luruskan. karena penghormatan yang di bentuk dengan bentakan tidak akan bertahan lama, paling hanya waktu acara ospek dan beberapa hari setelahnya saja. Kan logikanya buat apa kita menghormati orang-orang yang membentak kita tanpa alasan yang jelas (beda dengan bentakan orang tua).

Saya berharap acara silaturahmi aneuk komunikasi kedepannya supaya di isi dengan program-program yang lebih bermanfaat. Misalnya di buat kelas menulis, baik menulis cerpen, opini, buat reportase dan segala hal terkait ilmu komunikasi itu sendiri. Jadi yang jadi mentornya kan bisa di pakai senior-senior di kampus. Karena sekarang ketika menginjak semester lima saya begitu menyadari sebagai mahasiswa komunikasi sangat membutuhkan hal-hal semacam itu. Tentu ini menjadi tanggung jawab seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk mewujudkan acara Situasi (Silaturahmi aneuk Komunikasi) untuk di isi dengan program-program beredukasi. Sehingga kedepannya acara silaturahmi yang di buat akan ramai di ikuti oleh mahasiswa-mahasiswa baru ilmu Komunikasi.

Bukankah kita sering melihat di internet atau di media manapun kalau di luar negeri tidak ada ospek yang menyuruh maba melakukan hal-hal konyol. Mereka malah memberikan edukasi layaknya orang yang memang berpendidikan. Lalu kenapa kita masih mempertahankan tradisi yang memang tidak bagus untuk dipertahankan? sudah saatnya kita berevolusi dengan menghilangkan tradisi-tradisi seperti itu. Apalah arti teriakan kita selama ini “bebaskan bangsa dari kebodohan” kalau kita sendiri masih mempraktekkan hal-hal yang menjurus pada “pembodohan”.

Note:
Yang pah ta yu jep bak awaknyan1 = Pasnya kita suruh minum sama senior tersebut.
Ta lake doa manteng nye meninggai beu luwah kubu bang nyan2. = kita doakan saja senior yang menyuruh untuk meminum air garam tersebut waktu meninggal kuburannya di lapangkan
Bacut3 - sedikit
Aki ka kuweut lheuh4 = kaki yang terasa pegal sekali
Batak meubule lidah5 = julukan untuk orang batak oleh orang aceh, maksudnya orang batak pemakan sesamanya (Kanibal). Kalau di terjemahkan menjadi Batak berbulu lidah.



4 komentar:

  1. Tadi kk liat Tv, Ospek di FT Unila cukup gila.. Main kekerasan fisik dan panitianya gak pake baju dan celana sepaha.. ngeri x...

    BalasHapus
  2. Unila di mna kak??
    Ospek di ft usk kban kak?? Nggak gila kan?? Hehe

    BalasHapus
  3. menulis untuk melawan lupa. what a great idea. #love it

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas kunjungan nya kak Irma Kharisma.....

      Hapus