Yang Penteng Cara



Pada tanggal 13 s.d 16 November 2014 saya dengan beberapa teman berkesempatan mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Dinas Sosial di Hermes Hotel. Ada kisah menarik dari seorang peserta pelatihan yang berasal dari Aceh Utara. Waktu itu hari terakhir pelatihan, sebelum check out kami sarapan terlebih dahulu. Sudah menjadi kebiasaan, ketika mengikuti pelatihan kita cenderung berkumpul dengan teman-teman sendiri, begitupun kami berkumpul dengan sesama teman perwakilan dari Unsyiah. Jadi ketika sarapan tiba-tiba datang seorang peserta pelatihan yang umurnya sekitar 45 tahun ke atas, sang bapak ini tersenyum ke arah kami bertiga. Tanpa di komando kami pun membalas senyumnya.

Obrolan ringan pun di buka oleh bapak ini dengan menanyakan asal kami satu persatu. Bapak ini ternyata seseorang yang cukup terbuka. Tak terasa waktu terus berjalan dan bapak ini pun mulai bercerita tentang kehidupannya.

“saya di kampung adalah seorang Keuchik dan istri saya adalah seorang keturunan Jawa,  jabatan keuchik ini sudah saya emban sejak tahun 2003. Waktu itu Aceh masih di dera konflik dan bisa di katakan saya hidup di bawah tekanan senjata.” Tiba-tiba beliau berhenti bercerita. Matanya yang dari tadi melirik ke arah kami satu persatu tiba-tiba menatap lurus ke depan.

Dengan terus menatap ke depan, pikirannya seperti kembali ke tahun 2003. Tatapannya kosong tapi membuat kami terdiam dan tak sabaran mendengar kisah beliau. 

“malam itu saya kedatangan seorang tamu yang tak saya kenal. Ketika pintu saya buka sebuah pistol langsung di todongkan. Ketika itu saya berusaha untuk setenang mungkin menghadapi sang tamu. Dengan pistol masih di todongkan di atas kepala, percakapan pun terjadi antara saya dengan si tamu.

Tamu     : “Apakah betul anda keuchik di sini dan istri anda orang jawa?”

Keuchik : “ia, saya keuchik di Kampung ini dan istri saya orang jawa.” Waktu itu saya betul-betul berusaha untuk setenang mungkin, karena salah sedikit maka peluru akan bersemayam di kepala.

T              : “jawa adalah musuh, pengkhianat.”

Tiba-tiba istri saya keluar dan dengan tegas menjawab kalau ia ke Aceh semata-mata hanya untuk mengabdi kepada saya dan mengurus rumah tangga serta anak-anak, tanpa ada kepentingan politik apa pun. Waktu itu saya sedikit terhenyak melihat ia bisa seberani itu.

Si tamu ini agak terkejut melihat keberanian istri saya dan ia menampakkan raut ketidak senangan. Melihat itu semua saya pun langsung menengahi.

K             : “kalau begitu coba bapak duduk dulu, kita bicarakan baik-baik, saya mengerti maksud kedatangan bapak ke sini. Pistolnya di simpan dulu biar kita bisa bicara dari hati ke hati.” Saya pun menyuruh kepada istri untuk membuatkan minum.

Waktu itu saya mengatakan kepada mereka bahwa sebagai keuchik saya  hanya menjalankan peran sebagai pimpinan Gampong. Tanpa ada kepentingan apa pun dan tanpa berusaha memuja-muja siapa pun. Jadi waktu itu memang kebanyakan keuchik mengagung-agungkan pihak tentara dengan membawakan mereka bermacam-macam makanan. Sehingga membuat pihak GAM (Gerakan Aceh Merdeka) marah. Tapi saya sendiri tidak melakukan itu. 

Setelah berbincang-bincang saya mengatakan kepada mereka bahwa mereka bisa datang kerumah seminggu sekali untuk meminta uang dan saya akan memberikannya secara ikhlas. Kenapa saya melakukan ini semua karena saya sadar bahwa mereka yang datang ini memang semata-mata butuh uang. Kalau tidak kepada rakyat sipil mereka minta kepada siapa lagi mereka meminta, mereka tinggal di hutan dan tidak bekerja, jadi bagaimana mereka bisa hidup kalau tidak meminta uang kepada rakyat sipil untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari.

Minggu-minggu selanjutnya ia selalu datang kerumah dan saya selalu menyediakan uang sebesar 50 ribu. Hingga suatu hari pihak tentara mendirikan pos mereka pas di samping rumah, saya sendiri tidak pernah tahu sebab mereka mendirikan posnya pas di samping rumah.

Melihat pihak tentara mendirikan pos di samping rumah, pihak GAM yang datang kerumah tersebut jadi kesal dan marah-marah. Dia menuduh saya telah melaporkan kejadian ini kepada tentara supaya saya aman. Lalu saya jelaskan duduk perkaranya bahwa saya memang tidak pernah tahu sebab musabab pihak tentara mendirikan pos mereka di samping rumah. 

Jadi ketika itu saya katakan kepada pihak GAM kalau mereka datang kerumah saya terlalu beresiko, jadi uangnya akan saya titip di salah satu rumah keluarga yang selang beberapa rumah dari rumah saya, nanti dia ambil saja uangnya dirumah keluarga saya tersebut.

Sebagai seorang Keuchik tentu saya tidak boleh memihak baik kepada GAM atau kepada tentara. Saya harus bisa memosisikan diri supaya hubungan saya dengan pihak GAM baik-baik saja dan begitupun sebaliknya. Alhamdulillah dengan pihak GAM hubungan saya baik-baik saja walaupun tiap minggu saya harus mengorbankan 50 ribu tapi saya sudah menganggap itu sebagai sedeqah. Sekarang tinggal bagaimana caranya supaya bisa menjalin hubungan yang baik juga dengan pihak Tentara.

Kebanyakan tentara ketika konflik di datangkan dari tanah Jawa, berhubung istri saya keturunan Jawa jadi dia tahu apa yang disukai oleh orang Jawa. Di buatlah semacam sambal oleh istri saya dan saya belikan kerupuk. Kata istri, orang Jawa sangat menyukai kerupuk yang nantinya dicolek dengan sambal ini. Jadilah ketika menyambangi pos mereka saya bawakan sambal dan kerupuk tersebut, mereka betul-betul antusias dengan memuji-muji saya dan mengatakan “baik sekali Bapak Keuchik ini”, saya tersenyum-senyum saja waktu itu. 

Keuchik-keuchik lain waktu itu membawakan berbagai makanan seperti bebek dan ayam yang sudah di masak, buah-buahan yang mahal dan lain sebagainya. Kalau saya cukup mengeluarkan modal nggak lebih dari 10 ribu tapi sudah bisa mengambil hati mereka.

 keuchik-keuchik di Gampong lain kebanyakan tidak pas hubungannya dengan pihak GAM karena hanya membina hubungan dengan Tentara, sehingga pihak GAM marah dan keucik-keuchik ini kebanyakan tidak bisa tidur di rumah karena takut nanti kalau kedatangan GAM. 

Sampai menjelang perdamaian, Alhamdulillah hubungan saya tetap baik-baik saja dengan kedua belah pihak.

“Yang penting cara”, salah satu pesan yang Pak keuchik ini ingatkan kepada kami bertiga.

Konflik memang telah mewariskan luka dan air mata yang tidak terhitung jumlahnya. Banyak rakyat sipil di bunuh hanya kesalahpahaman. Nyawa waktu itu tidak lebih berharga dari sebungkus Indomie, saban hari kita akan mendengar letusan senjata lalu mendapati bahwa si fulan telah meninggal.

Semoga konflik tidak kembali meletus di bumi Serambi Mekkah, sudah cukup penderitaan selama 30 tahun. Biarkan anak-anak Aceh mengeyam pendidikan dengan tenang. Tidak lagi mendengar jeritan ketakutan, peluru yang meletus sana-sini dan ibu yang menjerit karena kehilangan anaknya.

Saleum Damee.....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar