Ternyata Pacarnya Bahagia itu Syukur




Banyak orang mengatakan bahwa bahagia itu sederhana. Namun tidak sedikit orang yang mengeluh dan bertanya-tanya di manakah letak kebahagiaan. Harta telah membuktikan kepada kita bahwa ia bukan alat untuk mencapai kebahagiaan. Yang suka nonton film Hollywood pasti kenal dengan Robbin Williams, sang aktor legendaris yang mengakhiri hidupnya karena depresi tingkat tinggi.

Kalau kita lihat secara lahiriah apa yang kurang dari seorang Robbin? Hampir tidak ada. Dari segi materi melimpah ruah, dari segi fisik sudah lebih dari rata-rata. Namun mengakhiri hidup harus menjadi pilihan terakhirnya.

Dalam hidup, mungkin kita pernah mengatakan dalam hati ketika melihat seorang teman atau siapapun yang mempunyai banyak prestasi atau materi berlimpah dengan perkataan seperti ini, “enak sekali jadi dia, punya segalanya, ke mana-mana bawa mobil, punya orang tua yang kaya raya, seandainya aku jadi dia.” 

Ucapan-ucapan seperti itu pasti pernah terlintas dalam benak kita ketika melihat seseorang dengan kelebihan yang ia miliki. Saya pun pernah mengalami hal serupa, awal-awal kuliah saya melihat seorang teman dengan segala kelebihan materi yang dia miliki. Punya banyak uang dan usaha di usia muda, siapa yang tidak mau seperti itu.

Namun tiba-tiba pikiran tersebut jadi buyar seiring kedekatan kami. Jadi suatu waktu kami ngopi berdua. Dia pun mulai membawa arah pembicaraan ke arah yang serius, ia mulai bercerita masalah keluarganya yang terhempas badai di tengah jalan, salah satu dari orang tuanya selingkuh. Sebagai anak, hati dia betul-betul hancur berkeping-keping kala itu.

Sebagai seorang sahabat saya pun ikutan sedih. Luka yang ia rasakan juga ikut terasa. Saya mencoba memberi beberapa nasehat dan motivasi dan Alhamdulillah hingga sekarang teman saya ini baik-baik saja. dia tidak sampai terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak baik.

Di lain kesempatan saya juga menemukan kasus yang hampir serupa. Seorang teman sejak SMA, teman saya ini dari segi materi juga melimpah. Dia seorang Fashionable, jika di lihat mungkin segala yang ia minta semua di penuhi oleh orang tuanya. Kedua orang tuanya bekerja sebagai abdi negara. Sebagai teman saya mengerti tentang keluh kesahnya. Selama berteman saya tidak melihat adanya kebahagiaan dan ketenangan pada diri teman saya ini. Walaupun ia bisa membeli apa saja yang ia mau.

Hidupnya gelisah. Dia terus saja ingin tampil dengan tampilan model terbaru, pokoknya semua harus baru. Sekarang dia sudah kuliah dan masih dengan materi yang melimpah. Ke kampus naik mobil dan masih juga fashionable.

Namun aura yang sama masih saya tangkap, ketika sekarang dia sudah kuliah, aura-aura ketidaktenangan dan kegelisahan. Karena yang ada dalam pikiran teman saya ini adalah harta dan kesenangan. Hanya itu.

Poin yang ingin saya sampaikan di sini adalah bersyukurlah dengan apa yang kita miliki sekarang. Ketika rasa syukur tidak pernah terucap dalam bibir maka jangan pernah berharap “bahagia” itu akan datang. 

Dua kasus di atas mengajarkan kita bahwa jangan hanya melihat orang dari luarnya saja. Dari luar dia bisa saja terlihat bahagia ketika kita yang menilainya, padahal di balik itu semua dia mempunyai segudang masalah. Dengan bersyukur terhadap  apa yang kita miliki sekarang InsyaAllah kebahagiaan akan selalu menyertai.


2 komentar: