Dari Jepang Sampai Sabang




Semua orang Indonesia sepakat kalau Sabang itu merupakan pulau paling barat di Indonesia. Sehingga tidak heran kalau ke Sabang kita akan menemukan yang namanya Kilometer 0. Karena akan aneh rasanya jika Tugu Kilometer 0 ini adanya di Medan atau di padang atau di tempat lain di Indonesia. 

Sabang merupakan salah satu kabupaten kota yang mempunyai banyak sekali tempat wisata, sebut saja Pantai Iboih, Pulau Rubiah, Air Terjun Pria Laot dan peninggalan sejarah seperti Benteng dan masih banyak lagi yang tersebar hampir di seluruh Penjuru pulau paling barat ini.

Beberapa tempat wisata sudah dikelola dengan baik oleh pemerintah Kota Sabang, hal ini terlihat dari tersedianya fasilitas penunjang tempat wisata tersebut. Namun tak sedikit yang masih terbengkalai walau mempunyai potensi yang sungguh luar biasa.

Selasa (13/01/2015) saya dengan beberapa orang teman jalan-jalan ke Sabang, mumpung kuliah lagi libur jadi momen ini tak kami sia-sia kan. Dua hari terakhir ketika hendak balik ke Banda Aceh kami menyempatkan diri menyambangi Benteng Pertahanan zaman dulu yang berada di kawasan Anoi Itam. Perjalanan dari Balohan ke Benteng memakan waktu sekitar 10 menit. Satu hal yang tidak perlu anda khawatirkan jika ke Sabang adalah akses jalan. Sabang adalah contoh yang baik sebagai kota yang mempunyai Jalan yang sudah sangat memadai. Hampir seluruh jalan di Kota Sabang sudah beraspal hitam.

ketika sampai, kami memarkirkan kendaraan di dekat jalan untuk selanjutnya melangkahkan kaki menuju wisata Benteng. Wisata yang satu ini masih luput dari perhatian pemerintah Sabang, hal ini nampak dari jalan masuknya yang masih seperti kita melintasi kebun orang dan tidak ada yang menjaganya. Terkait tempat ini memang saya tidak tahu banyak apakah memang betul tidak diperhatikan atau karena ada masalah lain. Tapi menurut kabar dari saudara saya yang menemani kami, bahwasanya kawasan ini telah di jual oleh sang empunya kepada orang China. Sehingga wajar saja tempatnya masih terbengkalai. Sedangkan menurut teman saya yang rumahnya berdekatan dengan Kawasan Benteng, bahwa destinasi wisata yang satu ini telah di beli oleh pemerintah dari masyarakat, Cuma belum ada upaya lebih lanjut untuk memugar menjadi lebih baik.

Untuk bisa melihat wisata Benteng secara menyeluruh kita harus terlebih dahulu menapaki anak tangga yng sudah berlumut, hingga akhirnya sebuah tempat persembunyian yang menghadap ke laut lepas menyambut kita. Tempat ini cukup indah dikarenakan langsung menghadap laut lepas dengan batu karang besar terhampar di depannya. Batu karang ini berada persis di hadapan benteng yang semacam bunker tempat mengintai musuh. Di dekat batu karang yang berbatasan langsung dengan laut juga tumbuh sebuah pohon kedondong yang umurnya sudah sangat tua dan konon katanya di sini juga terdapat salah satu makam ulama, yang merupakan salah satu dari ulama 44.

Namun sangat di sayangkan sebelum wisata benteng ini sempat di pugar oleh pemerintah, sudah terlalu banyak coretan tangan-tangan jahil yang entah apa maksud dan tujuan mereka mengukir kata-kata di Benteng tersebut. Mungkin kalau suatu saat ada pihak yang akan memugar tempat wisata benteng, coretan-coretan itu akan susah di hilangkan karena Benteng tersebut terbuat dari semen kasar layaknya bangunan-bangunan zaman dahulu. Coretannya juga sangat variatif, ada yang memakai cat semprot dan ada juga yang langsung mengukir menggunakan benda tajam sehingga coretannya jadi membekas, persis ketika kita mengukir nama di pohon menggunakan pisau. Di salah satu sudut tertulis nama seseorang dan nama kabupaten yang ada di Aceh menggunakan media cat semprot berwarna merah, sayangnya kami lupa mengabadikannya.

Melihat perilaku orang-orang yang tak bertanggung jawab tersebut rasanya jadi kesal sendiri. Ternyata masih banyak masyarakat kita yang masih belum tahu pentingnya menjaga peninggalan sejarah. Perilaku sebagian orang ini mungkin bisa di katakan “norak”. Lage ureung hantem leupah sahoe.

Perilaku “norak” ini mungkin tidak hanya terjadi di tempat wisata Benteng, Sabang. Masih ingat kejadian pada bulan Agustus 2014 kemarin? salah satu warga negara Indonesia berhasil membuat pemerhati atau petugas yang menjaga gunung fuji, Jepang menjadi sangat kesal. Bagaimana tidak, turis Indonesia ini membuat coretan di dua buah batu yang ada di gunung Fuji. Salah satu coretannya kalau saya tidak salah ingat adalah “Cla-X”, yang di artikan oleh salah satu media di Indonesia yang memuat berita ini dengan “Claten-10”, merujuk kepada salah satu kabupaten yang ada di Jawa sana. Hal ini sungguh menggemparkan negeri Sakura, karena hal-hal semacam itu sungguh sangat jarang terjadi di sana, bahkan bisa dikatakan hampir tidak pernah. 

Tak dapat di pungkiri memang, rakyat kita terkadang terlalul kreatif. Sehingga urusan coret mencoret baik itu mengukir nama seperti yang terjadi di tempat wisata Benteng Sabang sudah termasuk hal yang lumrah. Apalagi kawasan tersebut belum ada yang menjaganya dengan serius.

Namun di balik kelumrahan tersebut, saya atau siapapun kita yang sadar akan pentingnya menjaga tempat-tempat peninggalan sejarah dari tangan-tangan jahil sudah sepatutnya mengingatkan dan mengedukasi masyarakat yang belum tahu untuk lebih bisa menghargai tempat-tempat bersejarah. Mungkin mereka yang berperilaku seperti itu masih belum mengerti akan pentingnya menjaga tempat-tempat bersejarah. Banyak cara tentunya bisa kita lakukan untuk menyadarkan masyarakat, seperti dengan menulis atau berbicara secara langsung (face to face).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar