Takzim Kepada Guree





Malam kamis, kami para santri di dayah Tgk Chik Di sampang, biasa mengaji kitab Ta’alim Muta’allim. Begitupun dengan malam ini (21/01/2015). Kitab ini merupakan salah satu kitab yang tergolong ke dalam pengajaran ilmu Tasawuf.  Adapun mushannif (pengarang) dari kitab Ta’lim Muta’allim adalah Al  ‘alamah Syaikh Burhanuddin Az zanurji. 

Malam ini Tengku kami menjelaskan tentang fasal ke empat tentang Mengagungkan Ilmu dan Ahli Ilmu. Pada salah satu bait dalam kitab ini Saidina Ali berkata : “Sayalah menjadi hamba sahaya orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, di merdekakan ataupun tetap menjadi hambanya.” Mendengarkan perkataan Saidina Ali kami jadi tersentak. Sebegitunya kah Saidina Ali memuliakan seorang guru?. Mungkin inilah salah satu kunci keluasan ilmu Saidina Ali, beliau begitu memuliakan guru-gurunya. Sehingga dalam hadistnya Rasulullah mengatakan bahwa “Akulah kota ilmu dan Ali-lah gerbang utamanya”. 

Sudah begitu banyak kisah yang menjelaskan tentang keluasan ilmu seorang Ali. Salah satunya adalah seperti kisah berikut ini. Pernah suatu ketika, dalam suatu daurah para sahabat, mereka membincangkan mengenai huruf “alif” huruf pertama dalam deretan huruf Hijaiyyah. Huruf alif adalah huruf yang paling banyak dalam al-Quran. Huruf alif adalah huruf yang tak pernah sukun (mati). Di akhir perbincangan, sahabat menyatakan, sangatlah sulit berbicara tanpa menggunakan huruf alif.

Tidak bagi Ali bin Abi Thalib. Mendengar hal itu, dia berdiri, lalu berbicara dengan pembicaraan penuh hikmah, rentetan kalimat 700 kata dan 2745 huruf yang sarat dengan pengetahuan tauhid, dan hebatnya, dari apa yang dikatakan satupun tidak menggunakan huruf alif.

Pada bait lain dalam kitab yang sama di jelaskan bahwa termasuk arti menghormati guru, yaitu jangan berjalan di depannya, duduk di tempatnya, memulai mengajak bicara kecuali atas perkenan darinya, berbicara macam-macam darinya, dan menanyakan hal-hal yang membosankannya, cukuplah dengan sabar menanti diluar hingga ia sendiri yang keluar dari rumah.

Perihal tentang surah dalam kitab Ta’lim Muta’allim ini, Tengku kami berkisah bahwa dulu waktu beliau masih menuntut ilmu di salah satu dayah yang ada di Kuta fajar, Aceh Selatan. Ada seorang Guree dari Tengku kami ini yang tidak terlalu pandai (Semoga Allah selalu memberkati beliau),  nama Guree ini adalah Muhibuddin (bukan nama sebenarnya). ketika teman-teman seangkatan beliau sudah mendirikan dayah, Tengku Muhibuddin masih mengajar santri-santri di kelas persiapan (tajhizi).

Namun walaupun begitu, kedekatan beliau dengan Abon (pimpinan dayah) tak perlu di ragukan. Kapan pun Abon memerlukan bantuan, beliau selalu siap. Beliau betul-betul membaktikan dirinya untuk Abon, walau di samping itu beliau juga membuka sedikit usaha Klontong. Saban waktu Tengku Muhibuddin mendulang kesuksesan, padahal usaha beliau tidaklah terlalu besar. Tapi beliau bisa membeli mobil. 

Beliau juga di percayakan menjadi imam mesjid di daerah Kuta Fajar. Padahal di Kuta Fajar itu cukup banyak orang-orang Alim yang begitu luas ilmunya. Tapi beliau lah yang dipercayakan. Memang berkat, kalau kita dengan ulama begitulah. Apalagi Tengku Muhibuddin ini begitu takzim dengan Abon. Maka dari itu kita selaku santri harus betul-betul menjunjung tinggi adab kepada guree, selaku orang yang telah memberikan ilmunya kepada kita semua. Ujar Tengku Herman ketika hendak mengakhiri pengajian.

Belajar kitab Ta’lim Muta’allim mengajak kita untuk senantiasa menjunjung adab dalam setiap aktifitas. Karena seperti di sebutkan dalam hadist bahwasanya “Adab itu di atas ilmu”. Tiada berguna ilmu seseorang jika ia tidak mempunyai adab. Kitab ini menjadi rujukan yang sangat penting bagi para santri yang sedang menuntut ilmu, sebagaimana arti dari nama kitab ini sendiri yaitu “Pelita Penuntut Ilmu”.

#Jika ada salah-salah dalam penulisan mohon kritik dan sarannya, karena penulis hanya seorang fakir ilmu yang baru belajar menulis.


2 komentar:

  1. Semoga kedepan bisa lebih baik, dek. usahakan tidak menggunakan dua kata yang sama (berulang-ulang) dalam satu kalimat.
    contoh; Malam ini Tengku kami menjelaskan tentang fasal ke empat tentang Mengagungkan Ilmu dan Ahli Ilmu.
    cukup dengan: Malam ini Tengku kami menjelaskan tentang fasal ke empat; Mengagungkan Ilmu dan Ahli Ilmu.
    Kakak rasa dengan begitu lebih memperindah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimoeng Gaseh Saran nya kak Aini Aziz Sabe Meutuwah Lambaet. Saran yg cukup bermanfaat utk kami yang masih sangat perlu belajar banyak2 ini.

      Hapus