Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama


 “Adun, uroe minggu neu melangkah u rumoh beh, na acara bacut”, sebuah pesan singkat masuk ke hp tit tut saya.

Setelah berpikir sejenak dan ternyata tidak ada agenda apa pun dihari Minggu akhirnya saya membalas dengan mantap “Get adun, terimong gaseh”.  Ada dua kesenangan yang menyergap saya kala mendapatkan sms itu. Pertama saya akan kembali bertemu dengan seorang teman yang sudah lumayan lama tidak berjumpa. Kedua saya akan jalan-jalan ke Jantho karena acaranya tepat berada di simpang masuk Jantho.

Jantho sering disebut kota mati oleh sebagian orang. Ibukota Aceh Besar ini hanya hidup pada hari senin-jum'at, selebihnya ia lebih mirip kota yang ditinggal begitu saja sama penghuninya. Namun saya cukup suka berkunjung ke Jantho, disamping karena keasrian kotanya juga karena kesepiannya yang tiada dua. Berhubung saya tipe orang yang tidak begitu suka keramaian Jantho menjadi destinasi favorit untuk jalan-jalan. Kalau Blogger traveler Olyvia Bendon selalu kangen dengan Nangroe maka saya selalu kangen dengan Jantho.

Hari H pun tiba, dengan mengajak seorang teman; sebut saja namanya Zahrul. Motor kami pun melesat kencang di atas aspal hitam jalan Lintas Banda Aceh-Medan. Jantho i’m coming. Berhubung ada dua misi yang harus diselesaikan, maka misi harus diselesaikan one by one. Misi pertama adalah menghadiri kondangan dari teman. Setelah melaksanakan ritual kondangan ; datang, salaman, makan, duduk dan pulang. Misi kedua pun menanti.

Misi kedua adalah jelajah Jantho. Kali ini misinya adalah mengunjungi sebuah sungai yang jadi cikal bakal mengalirnya air PDAM ke rumah-rumah penduduk Kota Jantho. Sebelumnya kawan saya Zahrul Fuadi sudah pernah berkunjung ke sini. Dengan semangat berapi-api lantas saya mengajaknya kembali menyusuri sungai PDAM.

Rutenya gimana?

Permasalahan utama untuk bisa menikmati indahnya objek wisata adalah tahu rutenya. Jangan sampai niat mau ke sungai PDAM malah nyasar ke Bukit Jalin, mau ke Masjid Raya malah nyasar ke Peunayong. Rute yang bisa kamu tempuh untuk mencapai sungai ini adalah dengan melewati perkampungan Cucum terus melewati Greenland Jantho. Greenland jantho ini adalah tempat diadakannnya Gathering Blogger Aceh akhir 2015 silam. Melewati greenland jalanan mulai tidak bersahabat. Bau-bau lumpur mulai terasa. Waspadalah!

Jalan Menuju PDAM (23/12)
Ternyata benar adanya. Sekitar 30 meter jalanan bebatuan mulai berubah menjadi jalan berlumpur. Hal ini disebabkan karena sedang ada pembangunan parit disamping jalan (biasa proyek akhir tahun). Untungnya saya pergi dengan biker yang cukup berpengalaman, dialah Zahrul. Teman yang biasanya menempuh rute Sibreh-darussalam hanya dalam waktu 15 menit. Medan seperti ini bukanlah rintangan bagi seorang Zahrul.  Krik!

Narsis di Jalan

Akhirnya Sampai Juga.............

Setelah melewati jalan aspal, jalan bebatuan hingga jalan berlumpur tempat yang dituju pun sampai. Sebuah gerbang yang mirip gerbang di film Jurassic Park telah berdiri dengan megahnya di hadapan, seakan mengucapkan “Selamat Datang wak genkz”.


Pegunungan Yang Menawarkan Hawa Kesejukan

Dekat gerbang sebelah kiri terdapat rumah pegawai PDAM yang bertugas merawat mesin-mesin. Ada tiga orang pegawai yang terlihat sedang santai-santai di teras depan rumah mereka. Kami pun ngobrol sebentar untuk mencairkan suasana.

Ketika melihat jam, jarumnya bertengger di pukul 2. Namun cuaca disini malah dingin layaknya pukul 5 pagi. Dinginn beuudd. Setelah menunaikan kewajiban kepada-Nya, Zahrul pun mengajak melihat sungai yang telah di nanti-nantikan dari tadi. Dari pintu gerbang ada sekitar 100 meter lagi baru kelihatan sungainya.

Begitu melihat sungainya rasa takjub kembali hinggap. Kali ini double malahan. Masya Allah sangat indah ciptaan-Nya. sangat-sangat indah. Airnya jernih. Dari ketinggian 20 meter saja bebatuan kecil yang berada di dasar sungai terlihat dengan jelas. Kejernihan airnya layaknya kaca bening yang tiada nampak kacanya.

Jembatan Pipa Sepanjang Sungai




Sungai PDAM Yang Bersih
Disepanjang sungai ada semacam jembatan yang sebetulnya adalah pipa PDAM dengan ukuran besar serta diapit oleh pegangan kiri-kanan. Jadi kita bisa naik ke atasnya dan menyusuri sungai dari atas.
Tidak sah perjalanan tanpa ada dokumentasi tentunya. Setelah jeprat-jepret kami memutuskan turun ke sungainya. Melihat airnya yang sangat jernih nggak nahan buat nggak mandi. Buat kamu yang ingin ke sini jangan pernah meninggalkan sampah ya.



Asliii Segar Sangat


Tindakan Bar-Bar Kaum Tak Bertanggungjawab


12 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Huih, keren x sungainya, itu asalnya dr air terjun pancuri, ya dekmat??
    Dimana2 kalo uda ada org berkunjung, pasti na broeh... haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bkan air terjun pancuri kak tin tp air terjun peucari.
      Krang tw jga kak soalnya kami blm prnah ke peucari. Kpan2 anak flp ke sini kak ya.

      Hapus
  3. Hebat! Ke sungai pakai batik. Luar biasa fashionable kabid HRD FLP Banda Aceh ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tampil beda bang. Kalau pakek kaos udh biasa x. Hihi

      Hapus
  4. Hebat! Ke sungai pakai batik. Luar biasa fashionable kabid HRD FLP Banda Aceh ini

    BalasHapus
  5. Wah tempo hari saya & Olive juga sempat ingin kesini, tapi jalurnya off road, akhirnya membuat mobil putar balik.

    BTW itu ada aja ya sampah berserakan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah rugi lah mas mutar balik. Segarr x pdhal airnya. Kpan2 kalau mw ksni sya bsa jd guidenya mas. Hehe

      Hapus
  6. sang mangat tajak keunan.. sambilan belajar berenang... :d

    BalasHapus
  7. Insya Allah Tajak Sekitar 2 minggu ukeu teuk bang....

    BalasHapus
  8. Bg Aula, itu alasan pakai batik selain anti maintream juga karena ke kodangan kalik :D Waahhh Zahrul biker sejati.. Hawa cit tajak keunan sigeu bg mat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pah sang tajak sige Zahra, peu lom ka pre kuliah nyoe.

      Hapus