Dilema "Potong Tangan"


Ule Lheu Kala Sunset
Suatu sore saya diajak seorang kawan untuk menikmati kuta Raja dari Ule Lheu. Kawasan ini jadi titik pusat massa kala sore hari, terlebih sore sabtu dan minggu. Dari usia anak-anak hingga yang sudah tua renta bisa kita temukan disini.

Jadi ceritanya kawan saya baru saja mendapatkan sedikit rezeki. Berhubung dia cukup dermawan oranngya, diajaklah saya untuk menikmati sedikit rezekinya. Setelah membeli makanan kami bergerak ke Ule Lheu. Biasanya kalau ke Ule Lheu saya akan duduk dikursi-kursi yang berjejer rapi sepanjang jalan dengan pilihan menu yang sangat beragam. Ada sate, jagung bakar, bakso goreng dan bakar sampai yang jualan baju juga ada disini.

Namun kali ini saya diajak duduk ditempat yang tidak biasa. Bukan semak-semak ya. Jadi tempat ini letaknya di Ule Lheu juga, Cuma view nya langsung menghadap laut dengan deburan ombaknya yang langsung di depan mata.

Menikmati sore disini kita akan menemukan gerombolan sejoli yang tengah dimabuk asmara. Ada yang sibuk selfie bareng cowoknya, ada yang suap-suapan bakso goreng dan yang sedikit ekstrem ada juga yang nunjuk-nunjuk ke langit sambil ngelukis nama pasangannya. Alahweukkkk....

Berhubung saya pergi dengan teman yang suka diskusi, jadi duduk-duduk seperti ini juga menjadi waktu yang sangat cocok untuk berdiskusi. Jadi si kawan mulai mengungkapkan keraguan hatinya terkait hukuman potong tangan bagi pencuri. Ia beranggapan bahwa hukuman semacam ini terlalu sadis dan nantinya sayang kalau sudah tua melihat tangannya sudah tidak ada lagi. Intinya teman saya ini lebih mengedepankan rasa ibanya kepada pencuri.


Bebatuan Ini Menjadi Saksi Bisu Orang-Orang Pacaran

Setelah mendengar panjang lebar argumennya dengan serius lantas saya menanggapi diawali dengan tarikan nafas yang sedikit panjang lalu tersenyum. Dalam hal ini saya tidak menanggapi argumennya dengan dalil agama berhubung kalau dalam hukum agama memang mutlak kebenarannya. Tapi saya mencoba mengadu dengan logika. Saya mulai dengan menyuruh teman saya membayangkan kalau harta yang dicuri adalah miliknya, misal motornya. motornya yang sudah capek-capek ia kumpulkan uang untuk membeli, lalu tanpa persetujuannya berpindah tangan ke orang lain alias dicuri.

Teman saya diam sesaat, sementara mata sebelah kirinya ia hadapkan ke atas. Lalu ia menggangguk beberapa kali dan mengatakan “ia juga sih. Tapi. Tetap sayang menurut aku. Masak gara-gara mencuri saja ia harus kehilangan tangannya.”

Mencuri itu bukan perkara sederhana kawan. apalagi dalam jumlah yang besar" jawab saya dengan tegas. "Si pencuri telah menghilangkan hak milik seseorang atas hartanya.” dengan suara semakin meninggi namun tetap santai. “Orang sudah capek ngumpulin uang dengan keringatnya, kerja di bawah teriknya sinar matahari dan tak jarang ia menahan keinginan-keinginan lainnya untuk bisa beli motor namun tiba-tiba motor dia itu dicuri orang, coba bayangkan!.” Sambung saya lagi.

            Lalu saya kembali mengatakan kepadanya untuk memposisikan diri menjadi korban. Kenapa saya menyuruhnya berlaku seperti itu? Saya pribadi sering sekali melihat di televisi anggota keluarga yang mengamuk diluar persidangan karena tersangka tidak dihukum setimpal. Contohnya dalam kasus pembunuhan yang hanya dihukum 10 tahun. Bagaimana keluarga korban nggak mengamuk kalau Cuma dihukum 10 tahun. Memangnya nyawa bisa dibeli dipasar Aceh apa?

          Seingat saya memang di Aceh selama ini belum ada qanun yang mengatur tentang potong tangan bagi pencuri. Namun beberapa waktu yang lalu sempat heboh mengenai akan dibuat qanun potong tangan bagi koruptor. Qanun ini berawal dari gagasan seorang dosen fakultas hukum Unsyiah yang melakukan jejak pendapat kepada 400 tokoh dari daerah hingga nasional terkait dukungan mereka untuk diberlakukan hukuman potong tangan bagi koruptor. Dari 400 responden hanya 2 orang yang tidak setuju,  Namun gaungnya sekarang tidak terdengar lagi apakah sudah diproses menjadi qanun atau belum.

            Akhirnya kami memutuskan pulang karena matahari kian tenggelam. Begitu jalan beberapa langkah teman saya berkata “Tapi Mat aku belum bisa menerima sepenuhnya logika hukuman itu, walaupun aku nggak menampik hukuman itu memang setimpal dan pantas.” Ujarnya sambil terus berjalan pelan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar