Nasionalisme “abal-abal”



Sambilan santai malam, saya membaca sebuah tulisan di mojok.co, isinya tentang kesalahan Wiranto menulis pasal ke 4 dari pancasila. Kebetulan tulisan Wiranto ini dimuat di kompas. Lucu juga rasanya seorang Jenderal yang tiap hari asupan makanannya adalah nasionalisme namun malah salah menulis sila pancasila. Lalu saya berinisitaif untuk positif thinking, mungkin saja itu kesalahan editor atau memang silap Wiranto nya.

Nah tetiba saya jadi teringat diri sendiri. Dulu semenjak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas tiap senin kami selalu mengikuti upacara bendera. Dimana didalamnya ada prosesi pengibaran bendera hingga pembacaan pancasila oleh pemimpin upacara dan diikuti semua peserta.  Tapi semenjak kuliah tradisi itu jadi hilang sama sekali ; nyaris tidak ada sama sekali. Kemudian iseng-iseng saya menguji ingatan untuk kembali melafalkan Pancasila. Pertama saya berusaha setengah mati untuk mengingat apa ya sila pertama, Alhamdulillah rupanya ingatan saya tentang pancasila itu masih melekat bagus.

Wikipedia menjelaskan Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris nation) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia yang mempunyai tujuan atau cita-cita yang sama dalam mewujudkan kepentingan nasional. Namun kalau boleh jujur jika saja waktu sekolah dulu saya diberikan pilihan untuk ikut upacara atau tidak, sepertinya saya akan memilih untuk tidur-tidur saja dalam kelas. Ini bukan masalah saya tidak menghargai jasa pahlawan dulu. Tapi rasa nasionalisme saya seiring waktu terus saja memudar. 

Nasionalisme saya terus dikikis oleh tindakan oknum-oknum pejabat atau pemerintahan yang bertindak sewenang-wenang dalam memimpin Indonesia. Terus apa saya salah jika sebagai rakyat kecil yang patuh menjalankan aturan Negara, tiba-tiba nasionalisme saya jadi berkurang karena ulah oknum pejabat negara yang doyan korupsi itu?

Soruce : www.simomot.com
Kembali lagi ke Pancasila. Sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” mungkin sudah sedikit terimplementasi di Indonesia raya. Lanjut sila kedua “kemanusiaan yang adil dan beradab”, nyatanya wakil rakyat kita seringnya tidak beradab. Dimulai dari minimnya kehadiran mereka ketika rapat, korupsi, hingga ada yang kedapatan menonton video prono ketika sidang. Bukankah itu tidak mencerminkan seorang manusia yang beradab?. Sila ketiga “persatuan Indonesia” artinya kita sebagai rakyat harus bersatu padu. Sila ini sedikit banyak sudah terimpelmentasikan dengan rukunnya kita tinggal bersama walau berbeda suku bangsa ; konflik antar suku sekali-kali itu biasa. Lanjut sila ke empat , kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebijaksanaan dalam permusyawarakat perwakilan. Sila ini saya tidak terlalu ngerti. Pada sila kelima ini yang membuat darah jadi sedikit mendidih, apa sila kelima ? keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mungkin jika dibuat survey apakah sebagai bangsa Indonesia sudah merasakan keadilan? Saya rasa jawabannya 95% akan menjawab keadilan hanya untuk mereka yang mempunyai power. Perlu contoh? nggak usah, udah terlalu banyak. Rakyat kecil keadilannya itu diatas langit ketujuh.


Sebagai rakyat jelata saya berharap nasionalisme saya ini bisa kembali tumbuh seiring majunya Indonesia. Saya juga ingin sekali-sekali mendoakan pemimpin seperti yang dilakukan rakyat Malaysia dan Brunei selepas sholat Jum’at secara bersama-sama. Tapi bukan dengan pemaksaan seperti melakukan upacara. Tapi murni sebagai ungkapan terimakasih kami karena telah memimpin Indonesia ke arah yang lebih baik. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar