Sepenggal Kisah Dibalik Pembaringan Terakhir Teuku Umar


Gerbang Utama Menuju Makam
Awal 2016 saya bersama 3 teman menjejali barat-selatan Aceh. Perjalanan ini bukan pertama kali bagi saya, tapi ini adalah perjalanan ke empat kalinya mengunjungi barat-selatan khususnya Meulaboh. Tujuan utama saya kali ini adalah mengunjungi makam Teuku Umar dimana pada kunjungan tiga kali sebelumnya saya gagal melangkah ke sini. Sebetulnya kepergian kami ke Meulaboh adalah dalam rangka jalan-jalan karena baru saja libur kuliah, namun dibalik itu saya memendam tujuan utama yaitu berziarah.

Ada semacam kerinduan yang membuncah begitu saya dengan beberapa teman mulai menapaki pekatnya aspal menuju tempat pembaringan terakhir salah satu pahlawan nasional dari Aceh ini. Dari kecamatan simpang tiga kami bergerak, perjalanan menghabiskan waktu hampir satu jam. berhubung jalan yang dilalui cukup mulus lamanya waktu perjalanan jadi tidak terasa.

Begitu sampai, sebuah gerbang megah berwarna merah muda menyambut kedatangan kami. dari sini aura-aura makam belum begitu terasa kecuali aura kemegahan dan ketenangan yang mulai sedikit tercium. Motor terus kami pacu, kamera sudah stand by dari pertama masuk. Bismillah....

Dari Gerbang ini Jalan Kaki pun dimulai

Seperti makam-makam pejuang lainnya. makam Teuku Umar juga terletak disebuah tempat yang lumayan terasing dari keramaian. Jarak kampung terdekat mungkin sekitar 1,5 kilo. Sebuah gerbang mini kembali menyambut kami. berhadapan dengan gerbang tepatnya disebelah kanan tersedia lahar parkir yang cukup luas. Di sebelah kirinya bertengger sebuah balai berukuran 5x4 meter. Dari sini olahraga pun dimulai, berjalan kaki. Ada dua pilihan menuju makam, pertama melewati jalan setapak ukuran 2,5 meter dan satu lagi menapaki tangga yang sudah berselimutkan lumut.

Kanan Cenderung Mengarah Kepada Kebaikan
Berhubung kami berempat masih muda jadi kami memilih jalur yang sedikit ekstrem. Begitu melangkah menaiki tangga, rupanya memang ekstrem. Tangga ini sepertinya adalah jalur pertama sekali menuju makam. Beberapa ruas anak tangga juga sudah cukup miring, agak menjorok ke samping yang menghadap jurang. Anak tangganya sangat licin karena penuh dengan lumut, apalagi kedatangan kami pas setelah hujan berhenti. Lengkap sudah ke ekstremannya.

Ternyata Makam Teuku Umar adalah sebuah kompleks yang cukup luas. Suasananya tenang, teduh dan tenteram (3T). Sesekali terdengar suara monyet dan suara-suara khas binatang hutan lainnya. Ada banyak pohon besar menjulang tinggi disekitar makam. Salah satu yang paling tinggi malahan dari akarnya mengeluarkan air. Cuma karena ulah oknum yang tidak bertanggungjawab yang memotong akar pohon tersebut maka air jernih yang dulunya mengalir jadi mengering.

Menurut saya komplek Makam Teuku Umar merupakan salah satu Komplek Makam Pahlawan terbaik yang ada di Aceh. Letaknya apik dan bersih. Dibagian paling ujung terdapat sebuah bangunan berukuran 4x5 meter yang ternyata adalah makamnya Teuku Umar. Dibagian depannya terpampang sebuah papan yang bertuliskan aturan-aturan yang harus dipatuhi, seperti dilarang mengambil gambar dalam makam, diharuskan untuk memakai pakaian yang muslim dan muslimah hingga dilarang berbicara hal-hal yang tidak berfaedah.

Namanya Yusran, Salah Satu Hobbynya Hormat Bendera
Setelah puas melihat-lihat makam, kami menuju sebuah rumah panggung yang dibalut dengan kain kuning yang berjarak beberapa meter dari makam. Rumah ini ternyata memuat papan-papan bpersegi panjang yang menjelaskan sejarah Teuku Umar. Dari papan informasi ini juga saya jadi tahu tiga orang isteri teuku Umar ; Cut Nyak Dhien, Cut Meuligoe dan Cut Nyak Sapiah. Ketiga orang isteri ini juga memiliki peran masing-masing seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadih maja “Cut Nyak Dhien geutung keu gagah, Cut Meuligoe Geutung keu tuah dan Cut Nyak Sapiah Geutung keu bangsa.”


Musholla di komplek Makam
Setelah puas melihat museum mini, pandangan saya teralihkan kepada dua sosok manusia yang duduk ditangga makam. Insting saya mengatakan bahwa mereka adalah penjaga makam. Perlahan kaki ini mulai melangkah menuju dua sosok tersebut. Saya ingin berkenalan dengan mereka dan bertanya banyak hal tentang Teuku Umar. Bersambung.........


1 komentar: