Nothing Impossible


 Seringnya saya memandang pesimis terhadap kemajuan universitas tempat saya menuntut ilmu ; Unsyiah. Masuk pertama sekali akreditasinya masih C. Tata letak bangunannya acak-acakan. Jalanannya berlubang hingga tak jarang jika musim hujan menyapa, air akan tergenang dibadan jalan. Mungkin kekecewaan saya berangkat dari ketidakminatan saya untuk kuliah disini. Jadi semua terlihat jelek. Awal-awal kuliah semester pertama, ketidaksukaan saya makin menjadi-jadi. Hal ini karena seringnya dosen ingkar janji. Jadwal masuk perkuliahan yang telah ditentukan diubah seenaknya. Bahkan tak jarang mereka absen hadir.

Marah, kesal, ingin berhenti kuliah merupakan segenap perasaan yang muncul kala itu. jauh-jauh berkendara dari Montasik ke kampus cuma untuk mendapati kabar bahwa dosen hari ini tidak masuk. Dalam hati, saya menggerutu “kapan maju Unsyiah kalau seperti ini?” apakah ini sebuah kebiasaan yang tidak perlu ditanggapi serius saya nggak tahu. Kebanyakan mahasiswa hanya diam. Mungkin tidak terlalu menarik membahas tentang itu. Bisa juga mahasiswa takut kalau melapor ke akademik bakalan kena sanksi. 

Setelah berulang kali kejadian dosen tidak masuk, beberapa mahasiswa berinisiatif melapor. Tanggapan dari akademik rupanya cukup bagus, berbagai alasan mereka utarakan dan katanya akan segera bertindak. Setelah laporan itu beberapa dosen jadi rajin masuk namun ada juga yang masih malas-malasan.

Dari berbagai kejadian selama awal semester, saya jadi tahu dan belajar banyak hal tentang dunia kampus. Tentang dosen yang masuk semau gue, tentang carut marut birokrasi kampus, tentang minimnya prestasi mahasiswa hingga tentang Unsyiah yang tak kunjung menunjukkan perkembangannya.

Keseringan dikecewakan sama dosen saya jadi kebal dengan rasa kecewa. Lantas saya berpikir, bukankah mengutuk kegelapan tidak akan menyelesaikan semuanya? dari quote ini saya belajar untuk menyalakan lilin dan itu artinya menerima kehadiran Unsyiah sebagai rumah baru untuk menuntut ilmu.

Sebagai mahasiswa baru, rasa penasaran kami tentang kampus tentu masih menggebu-gebu. Masih banyak hal yang belum kami ketahui tentang kampus yang mendapatkan julukan “jantong hate rakyat Aceh” ini. Menurut fakta psikologi yang saya baca, orang yang memiliki darah O cenderung mempunyai rasa penasaran sedikit lebih tinggi ketimbang golongan darah lain. Hal ini terbukti dari keinginan saya beserta kawan untuk bergerilya ke semua fakultas yang ada di Unsyiah.

Tidak luput dari target gerilya kami adalah Perpustakaan Unsyiah. Ketika masih menjadi siswa saya sering memperhatikan gedung besar milik Unsyiah ini. waktu bermain ke kawasan Darussalam. Bangunan yang nampak tua ini selalu mencolok perhatian karena tinggi dan besarnya. Kalau istilah dalam bahasa Aceh raya manyang (besar dan tinggi). Dari luar, bangunan ini tampak privasi sekali, seolah hanya orang tertentu saja yang bisa masuk. Begitulah pikiran saya ketika itu.

Parkiran Unsyiah Yang Tiap Hari Selalu di Penuhi Motor Pengunjung

Knowledge Is Free At Unsyiah Library
Setelah menjadi mahasiswa di Unsyiah pada tahun 2012, kesempatan untuk masuk ke dalamnya tentu tidak boleh di sia-siakan. Perlahan kaki kami melangkah memasuki teras perpustakaan. Rasa takjub muncul begitu melihat gedung perpustakaan dari luar. Namun begitu membuka pintu utama, ekpektasi dengan realita jauh berbeda. Ruangannya pengap, baunya tidak enak, tidak banyak mahasiswa di dalamnya, kursinya jadul punya hingga lampu yang berkedip-kedip. ingin rasanya berteriak lantang dan berkata “apaan ini?” dengan ekspresi keheranan sambil tertunduk lesu.

Semenjak kejadian mengecewekan itu, saya mulai menjauhi perpustakaan. Hingga akhirnya kami mahasiswa baru diwajibkan untuk mengikuti tour ke perpustakaan guna penjelasan tentang perpustakaan berikut pembuatan kartu anggota.  Tahun 2012 semester 1 saya sah menjadi anggota perpustakaan dan itu berarti saya mempunyai hak untuk meminjam segala bentuk karya yang ada di Perpustakaan Unsyiah. Tapi kenyatannya kartu itu tidak pernah saya sentuh selama setahun lebih.

Hingga akhirnya tahun 2013 saya mendengar desas-desus bahwa perpustakaan Unsyiah melakukan pembenahan besar-besaran. Jiwa saya kembali terpanggil untuk saweu pustaka setelah setahun lebih tidak menjamahnya. Tanpa menunggu diajak pacar akhirnya kaki saya berlabuh juga di Pustaka Unsyiah. Alhamdulillah sudah ada sedikit perubahan dari sebelumnya. Langkah pertama yang diambil oleh Bapak Taufik Abdul Gani selaku kepala Perpustakaan yang diangkat pada 2012 adalah mencari dukungan dosen. Dosen itu adalah senjata paling ampuh untuk mempengaruhi mahasiswa. Ketika dosen sudah menyatakan dukungannya maka mahasiswa juga akan ikutan meramaikan perpustakaan. Dari segi fisik, Pak Taufik melakukan perbaikan AC (air conditioner) karena untuk membuat pengunjung betah maka kenyamanan adalah hal yang mutlak.

Sejak itu saya melihat perpustakaan mulai berkembang step by step. Dari mulai perbaikan AC, pengadaan kursi dan meja baru, pembuatan sekat ruangan agar lebih teratur, pengadaan wifi dan berbagai pembenahan dan pengadaan lainnya yang terus menunjukkan perkembangan ke arah yang lebih baik.
Suasana di Lantai I
Rak Baca di Lantai I
Hingga detik ini saya menjadi pelaku sejarah bagaimana Pustaka Unsyiah bertransformasi dari yang bukan apa-apa menjadi incaran sejuta mahasiswa. Kemajuan-kemajuan ini bukan isapan jempol belaka, hal ini bisa dibuktikan melalui deretan angka yang dirilis oleh Kepala Perpustakaan Unsyiah beberapa waktu lalu terkait Kinerja Pelayanan Perpustakaan Unsyiah. Seperti jumlah pengunjung tahun 2014 bertahan diangka 269.020 pengunjung, sementara tahun 2015 terjadi peningkatan yang cukup signifikan yaitu 303.953 pengunjung. Dari jumlah buku yang dipinjam pada tahun 2014, tercatat ada 36.856 buku atau karya yang dpinjam, sementara tahun 2015 terjadi peningkatan dua kali lipat yaitu 60.633 karya yang dipinjam. Jumlah Anggota Terdaftar tahun 2014 yaitu 19.410 anggota, sementara ditahun 2015 tercatat ada 30.010 orang terdaftar sebagai pemegang kartu perpustakaan Unsyiah. Luar biasa.
Meja Baca di Lantai II
Disamping layanan langsung di Perpustakaan, Perpustakaan Unsyiah juga menyediakan berbagai akses layanan Elektronik yang terbagi kedalam dua kategori ; local content dan jurnal dan teks. Termasuk kedalam local content yaitu E-Theses and Disertations (ETD), OPAC, Jurnal Unsyiah, Google Search, Unsyiah Union Catalogue, Open Acces dan Jurnal Terakreditasi. Dalam kategori Jurnal dan Teks yaitu IEEE, Science Direct, Proquest, Springer Link, PQDT Open, E-resources (Perpustakaan Nasional). Layanan itu semua disediakan secara cuma-cuma (free) alias gratis alias pre. Penyediaan semua layanan ini sejalan dengan motto Pustaka Unsyiah yaitu “knowledge is free at Unsyiah Library” silahkan anda datang ke perpustakaan Unsyiah dan seraplah semua pengetahuan yang ada di sana karena semuanya free.
Suasana di Lantai III
Pengunjung Yang  Meminjam Salah Satu Karya

Sejujurnya dalam tulisan ini saya tidak bermaksud membanding-bandingkan antara kepala perpustakaan yang dulu dengan sekarang karena tentu problem yang dihadapi tiap kepala pada masa jabatannya beda-beda. Namun yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini adalah tiap pencapaian kesuksesan apapun itu selalu ada keringat yang bercucuran dan pengorbanan yang tidak mengenal waktu.
Dipenghujung tulisan ini saya ingin menghanturkan terimakasih kepada semua pengurus Perpustakaan Unsyiah dimulai dari Bapak Taufik Abdul Gani selaku pimpinan tertinggi hingga seluruh staf yang telah membuktikan bahwa nothing impossible (tidak ada yang mustahil) di dunia ini. Pustaka Unsyiah yang dulunya dijauhi mahasiswa dan dipandang sebelah mata kini ditatap oleh ribuan mata karena takjub dengan perkembangannya.
*Tulisan ini di Ikut sertakan dalam lomba Blog "Usnyiah Library Fiesta 2016"



1 komentar:

  1. Dek Mat, curhat ya!hehehe. Sekarang setelah jadi alumni, pasti ada kerinduan terhadap kampus yang mulanya bikin sebal ini. Tapi patut diakui bahwa pustaka Unsyiah jauh berbeda dari pustaka di awal tahun kita masuk kuliah dulu. Mantap tulisannya dek Mat, semoga menang ya!

    BalasHapus