Filosofi Rangkang

Sumber Foto : www.pernikdunia.com
Jika anda orang Aceh, mengerti bahasa Aceh serta lama tinggal di Aceh pasti tahu istilah “rangkang”. Rangkang merupakan sebuah bangunan yang terbuat dari material bambu atau kayu yang terletak di pematang sawah atau kebun. Rangkang biasanya dibuat tanpa adanya dinding. Jadi angin bisa bebas keluar masuk tanpa ada sekat yang menghalangi.

Rangkang yang dibuat di kebun dengan di sawah sedikit berbeda. Kebiasaan rangkang kebun dibuat sedikit lebih bagus dengan tujuan bisa menjadi rumah kedua ketika tidak memungkinkan pulang kerumah karena satu dan lain hal. Jadi pemilik kebun bisa bermalam di rangkang.

Dimata seorang petani, rangkang bak oase ditengah padang pasir. Ia menjadi pelepas dahaga ditengah teriknya sang surya. Duduk untuk sejenak beristirahat dari aktifitas bertani di rangkang menjadi kenikmatan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Apalagi kebiasaan petani ketika ke sawah atau ke kebun membawa bekal untuk makan siang. Dengan bekal seadanya yang bahkan tak jarang hanya berlaukkan ikan asin ditambah sambal terasi semakin menambah kenikmatan berteduh dirangkang.

Rangkang juga menjadi pilihan yang tepat ketika hendak melihat hasil pertanian yang mulai menguning. Ia bisa menjadi basecamp untuk menjaga padi dari serangan burung gereja. Dikala padi masih menghijau rangkang menjelma bak istana dengan segala kesederhanannya. Berteduh disana kita bisa merasakan sensasi asli sebuah pedesaan.

Tidak semua pematang sawah mempunyai rangkang. Hanya beberapa diantara puluhan petak sawah. Hal ini dikarenakan banyak sebab, seperti kecilnya ukuran pematang untuk dibuatkan rangkang hingga tidak adanya keahlian pemilik sawah untuk membuat rangkang. Namun petani berbeda dengan kebanyakan orang kaya dinegeri ini, yang hanya mementingkan nasib sendiri. Petani adalah sosok yang bersahaja. Rangkangnya bisa bebas dipakai oleh siapa saja untuk sekedar melepas penat. Tak jarang kaum ibu juga menjadikan rangkang sebagai tempat membuatkan ayunan untuk buah hati yang ikut ke sawah.

Seiring berjalannya waktu rangkang tidak hanya terdapat di sawah atau di kebun. Kini ia telah merambah ke rumah-rumah mewah. Orang kaya biasanya membuat rangkang atau gazebo di depan atau dibelakang rumahnya. Hal ini dimaksudkan ingin menjadikan rangkang sebagai tempat bersantai-santai atau sekedar bercengkrama dengan anggota keluarga setelah lelah seharian beraktiftas.


Dimana saja keberadaannya “Rangkang” tetap menjadi pilihan manusia untuk kembali merefleksikan makna sebuah kesederhanaan. Bersantai dirangkang ada semacam kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Atas dasar itulah di Header blog ini saya menambatkan kata-kata “Rangkang”. Dengan harapan dibalik kesederhanaan blog ini namun bisa membuat pengunjung betah untuk berlama-lama sekedar berlari untuk bersembunyi dibalik aktifitas yang seakan tiada berhenti.

8 komentar:

  1. Leupi sabe wakte taziarahi rangkang Aulia nyo :)

    BalasHapus
  2. Sereng2 ziarah keuno kak Aini -_-

    BalasHapus
  3. di tempat lain, rangkang dinamakan pada semacam kursi panjang dari bambu meunan mat.. kalau "rangkang" yang ini disebut balai biasanya.. beda tempat beda nama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penyebutan seperti itu di Pidies Bang ya??

      Hapus
  4. lagak that rangkang dek mat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat Datang kak Liza di Rangkang Sederhana kami.Semoga betah berlama-lama di Rangkang Aulia. Rangkang Sejuta makna dan kata.

      Hapus
  5. wah... jadi teringat rangkang di kampung halaman tercinta πŸ˜€πŸ˜€ begitu banyak kenangan heheh.

    filosopi Rangkang yg luar biasa πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti memg tepat skali blog oni dinamakan Rangkang. Ya kan Rika?

      Hapus