LHOK SEUDU DAN SEGALA POTENSINYA YANG TERABAIKAN



Saya sering bingung ketika menginjakkan kaki di Lhok Seudu. Apakah ini masih wilayah Aceh Besar? Kebingungan ini berangkat karena memang jarak Lhok Seudu dari Montasik sekitar 25 kilometer. Kalau di menitkan bisa mencapai 40 menit perjalanan. Lumayan menguras tenaga jika hendak ke sana. Dari kebingungan ini saya jadi tambah sadar bahwa Aceh Besar memang luas sekali. Ya! Aceh Besar memang luas sekali.

Lhok Seudu merupakan salah satu dari enam gampong yang terletak di kecamatan Leupung, Aceh Besar.  Dulunya Leupung masuk dalam kecamatan Lhoknga. Namun setelah pemekaran, Leupung menjadi kecamatan tersendiri. Pada satu kesempatan di Mei 2016, saya coba menyelami keindahan gampong yang terkenal dengan olahan ikan asinnya. Berhubung tiap berkunjung atau pulang dari kawasan Barat-Selatan memang tidak pernah sekalipun saya memberhentikan kendaraan di kawasan ini. Ya, saya pikir terlalu tanggung jika berhenti untuk istirahat disini. Hingga pada akhirnya kunjungan di bulan Mei membuat semuanya berubah. Lhok Seudu adalah sesuatu.

Bebatuan Karang Hitam Yang Mengkilat

Tiba disana pukul 4 sore kami langsung menuju sebuah cafe yang paling excite disana. Rencananya mau istirahat dulu barang 10 menit sambil menyeruput segelas kopi khas Lhok Seudu. Begitu tiba di pintu masuk, sebuah pengumuman tertulis “Hari Jum’at Cafe tutup, segala aktifitas di liburkan.”

Sayang sekali  hari Jum’at cafe tutup. Terpaksa kami harus berbalik arah mencari tempat lain. Namun saya mengapresiasi langkah semacam ini agar kesucian hari Jum’at terjaga dari tindakan-tindakan yang kurang seronok. Malahan ini bisa menjadi sebuah pertimbangan bagi pemkot atau pemda dalam membuat kebijakan, dimana semua cafe dilarang beroperasi sebelum shalat Jum’at selesai dilakasanakan.

Rupanya di seputaran cafe ada pemandangan indah yang membuat perhatian ini teralihkan padanya. Sekelompok boat warna-warni milik nelayan terombang-ambing dihempas gelombang. Boat ini juga mengalami nasib serupa seperti halnya cafe. Mereka akan menganggur kala hari Jum’at tiba. Hal ini sudah menjadi kesepakatan bersama melalui Panglima Laot untuk tidak mencari ikan di hari Jum’at.
Tempat boat ditambatkan ini adalah sebuah pantai melengkung dengan pasirnya yang putih. Dari sini kita bisa melihat pemandangan perbukitan Leupung yang hijau. Pandanglah sekitar 2 menit dan rasakan sensasi ketenangannya.

Cocok di Jadikan Tempat Pemotretan

Puas bermain di sini kami pun beranjak. Tak lengkap rasanya ke Lhok Seudu tanpa bersantai di cafe yang ada disini. Ada beberapa cafe yang menawarkan pemandangan lelautan dan perbukitan. Setelah berjalan beberapa menit pilihan kami jatuh kepada cafe Lhok Aron. Sebuah cafe dengan rangkang-rangkang kecil. Rangkang ini di desain sedemikian rupa sehingga yang duduk di dalamnya langsung menghadap laut.

Bersantailah di Sini, Dijamin Kamu Akan Lupa Waktu
Setelah memesan makanan lantas saya coba menghubungi salah seorang teman yang tinggal di Lhok Seudu. Teman yang akrab saya sapa Adun ini adalah warga asli Lhok Seudu. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mencari keberadaan kami. Dengan hanya memberi tahu kami berada di Cafe Lhok Aron dalam hitungan menit langsung sampai.

Dari Adun lah kami tahu bahwa ada sebuah tempat camping yang cukup menarik yang ada di Lhok Seudu. untuk mencapai ke sana kita harus menyewa boat nelayan. Menurutnya harus ada izin terlebih dahulu dari tokoh adat setempat untuk menuju ke sana. Dulu ada rombongan dari Malaysia yang melakukan kegiatan penanaman mangrove sekaligus camping. Namun setelah itu tidak ada lagi karena memang kurang adanya promosi.

Menurut pengamatan saya, Lhok Seudu ini sangat cocok dijadikan tempat wisata edukasi. Disamping hamparan pasir dan lautnya yang menggoda. Lhok Seudu juga bisa jadi tempat pembelajaran sekaligus pengembangan pengolahan ikan asin. Jadi orang-orang yang berkunjung ke sini bisa belajar bagaimana pengolahan ikan asin. Namun sayangnya segala potensi yang ada ini belum tercium sama pemerintah daerah Aceh Besar. Padahal Lhoksedu mengandung sejuta potensi yang sayang kalau diabaikan.



6 komentar:

  1. Rahmat, fotonya kecil kali kok? Hehehe...
    Baru ingat kalau cafe di atas karang itu tutup kalau hari jumat, dan suasana nongkrong di sana pun agak beda dengan cafe-cafe yang lain. Coba lain sore datang ke sana nungguin magrib, sunsetnya juga keren!

    BalasHapus
  2. Ntik coba kami setting lg bang, bsa gedek lg tp kan?
    Betol bang, apalagi datang sama adek tu. Liat sunset bareng sambilan pegangan tangan tros pesannya kelapa muda satu dgn pipetnya dua.

    BalasHapus
  3. Ulasannya memang sangat menarik.
    Teringin juga berwisata ke sana, sesekali
    Ajak kami ya, Dekmat :)

    BalasHapus
  4. Boleh kak, siap lebaran boleh kita "bertiga" ke sana kak.

    BalasHapus
  5. Baru tau tempat ini xD Semoga ada tindak lanjut lagi dari Pemkan setempat ya, demi perputaran ekonomi warga sekitar juga.
    Dan semoga ngga bakalan banyak sampah =3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiinnn.... Semoga doa Annisa Mulia di dengarkan dinas pariwisata Aceh Besar.

      Hapus