SABANG DAN SEBUAH KEKHAWATIRAN




Pernah menetap sebulan di Sabang membuat saya sedikit banyak tahu bagaimana kondisi alam dan masyarakat disana. Walau tidak lebih tahu dibandingkan masyarakat asli Sabang. Namun, sebulan tentulah bukan waktu yang singkat untuk bisa menilai bagaimana kehidupan sosial suatu masyarakat.

Ada sebuah kekhawatiran ketika kembali melangkahkan kaki ke pulau paling barat Indonesia ini. Sebuah rasa janggal, aneh, bahkan miris ketika melihat potret Sabang saat ini.

Rasa miris ini kembali muncul ketika menjemput seorang kawan yang baru saja tiba di pelabuhan Ule Lheu. Pada lebaran 2016, dia menghabiskan waktu disana untuk bekerja. Di saat menunggu kedatangannya, saya melihat rombongan wisatawan turun dari kapal. Rerata penumpang cewek yang tidak berjilbab, cowok dengan celana pendek dan cewek dengan rambut yang terurai.

Melihat fenomena ini, pikiran saya langsung bernostalgia ketika sebulan menetap di sana. Pemandangan seperti ini menjadi hal yang biasa saja selama di sana. Apalagi kalau kita ke pantai. Berbagai macam model manusia dengan pakaian minim adalah hal yang lumrah.

Jujur, saya merasa miris dengan pemandangan ini. Seolah ketika orang mulai melangkahkan kaki ke Sabang maka mereka telah memasuki area “bebas mengekspresikan diri”. Tak dapat di pungkiri, ada semacam kesepakatan tak tertulis dalam pikiran anak muda yang saya kenal, Jika liburan ke Sabang maka silahkan menikmatinya sesuka hati lo. Terserah mau ngapain aja.

Pernah suatu hari, saat  sedang menikmati keindahan pantai Sumur Tiga lewat seorang turis cewek dengan baju yang sangat minim. Tidak jauh dari situ ada anak-anak yang sedang bermain pasir. Anak-anak ini memang sering mengahabiskan waktu di pantai berhubung antara rumah mereka dengan pantai hanya selemparan batu.

Ketika melintas depan sebuah cafe, pemiliknya menginstruksikan kepada si bule untuk balik ke penginapan karena ada anak-anak di depan sana. Dengan patuh bule ini pun langsung membalikkan badan.

“Bang kenapa bule itu?” Saya pura-pura nanya.

“Biasa dek. Sudah beberapa kali kita ingatkan sama yang punya penginapan, untuk memberitahu tamu yang berpakaian minim agar tidak melintas ke sini. Tidak jadi masalah ia mau jalan kemana aja tapi dengan baju yang sopan. Soalnya di sini banyak anak-anak yang biasa main di pantai. Sayangkan kalau kecil-kecil sudah terbiasa melihat orang berpakaian kurang sopan gitu. Keseringan liat yang beginian nanti mereka pikir tidak jadi masalah kalau berpakaian gitu." Ujar abang penjaga cafe dengan nada kasihan.

“Ya bang. Saya setuju dengan tindakan seperti itu. Kalau bukan kita yang peduli siapa lagi kan bang?”

Jujur, saya salut dengan tindakan pemilik cafe. Ada rasa kepedulian dalam dirinya terhadap anak-anak Sabang. Ia takut anak-anak yang masih polos, keseringan melihat pemadangan seperti itu suatu saat akan menganggapnya biasa saja. Bahkan menganggapnya sebagai hal yang lumrah. Efeknya tentu akan sangat buruk bagi masa depan mereka.

Kekhawatiran abang pemilik cafe ini sejalan dengan kekhawatiranku selama ini. Saya khawatir ketika Sabang nantinya berubah bak Bali. Saya khawatir ketika pemerintah Kota Sabang hanya menfokuskan bagaimana caranya tiap tahun kunjungan turis meningkat , tanpa memikirkan efek negatif dari kunjungan mereka.

Kita semua tentu tidak mau, ketika nantinya turis bebas bersiliweran dengan pakaian minim di tiap sudut kota Sabang, yang kita inginkan adalah Sabang tetap menjaga nilai islami di tengah pusaran wisatawan yang melancong ke sana.




4 komentar:

  1. Mungken loen payah jak u sabang ct mat utk jak survey, menye na tour gratis ke sabang yg sponsor jh rangkangaulia, tlg neupakat loen beuh

    BalasHapus
  2. Mungken loen payah jak u sabang ct mat utk jak survey, menye na tour gratis ke sabang yg sponsor jh rangkangaulia, tlg neupakat loen beuh

    BalasHapus
  3. Bek neujak bang tuwe mandum hafalan nahwu dren yg selama nyo neuhafai.

    BalasHapus
  4. Coba klo ada rezeki dek mat jalan2 ke padang dan lombok. Sehingga ada data pembanding

    BalasHapus