Belajar Gamelan dan Wayang Jawa di Malaysia, Kenapa Tidak?



Selama ini saya hanya tahu tentang Gamelan dan Wayang Jawa melalui buku bacaan dan televisi. Tidak pernah sekalipun menyentuh apalagi memainkannya. Tapi kali ini, di Malaysia saya bisa melihat langsung atraksi bahkan memainkannya. 
Ini hari pertama kami mengikuti acara Rentak Selangor. Sebuah program fam trip yang dilaksanakan oleh Jawatan Kuasa Pembangunan Generasi Muda, Sukan, Kebudayaan dan Pembangunan Usahawan Selangor bekerja sama dengan Gaya Travel Magazine. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan warisan, tradisi, dan kebudayaan Selangor sebagai negeri yang kaya tradisi dan budaya kepada dunia. Saya bersama dengan enam perwakilan media Indonesia, Malaysia dan Filipina diundang untuk melihat dan berinteraksi langsung dengan para pelaku budaya daerah Selangor. 

Acara yang berlangsung dari 9 s.d 12 Maret 2017  ini mengusung tema “The Breathing Pulse of Our Land”. Selama empat hari, peserta akan melihat langsung adat dan budaya daerah Selangor dan akan tinggal di The Kabin Hotel, sebuah hotel unik dari peti kemas yang terletak di Jalan Haji Zainal, Jeram, Selangor.

Pada hari pertama, peserta tidak langsung menyaksikan pembukaan acara secara formal. Melainkan di ajak untuk tour ke Bukit Melawati. Sebuah bukit asri yang berhadapan langsung dengan Selat Melaka. 

Begitu tiba, kami dipindahkan ke mobil “odong-odong” yang di desain tanpa sekat sehingga bisa bebas menikmati pemandangan. 

Di atas bukit, puluhan monyet sudah menunggu dan para peserta pun langsung beraksi ketika melihat monyet ini begitu sadar kamera.

Kalau di Aceh ini disebut "Odong-Odong"

Monyet di Bukit Melawati adalah makhluk paling SKSD

Di atas bukit, terdapat sebuah museum yang menampilkan napak tilas sejarah hingga raja-raja Selangor sebagai sebuah kerajaan. Selain itu, ikut dipamerkan berbagai barang-barang bekas peninggalan kerajaan seperti Keris, Piring Antik, meriam, guci dan lain sebagainya. Ketika mengamati silsilah keturunan Raja Selangor, saya menemukan nama Raja Pahang. Melihatnya, saya langsung teringat dengan Taman Putro Phang yang ada di Banda Aceh. Menurut sejarah, dulunya Sultan Iskandar Muda yang merupakan salah satu Raja Aceh yang paling disegani pada masanya, mempunyai permaisuri yang merupakan anak dari Raja Pahang yaitu Putri Pahang. Taman Putro Phang yang berada di Banda Aceh menjadi tempat mandi dan bermain Putro Phang untuk membunuh rasa bosan ketika suaminya pergi berperang. Hingga saat ini, taman itu masih berdiri dengan megahnya di salah satu sudut kota Banda Aceh. Puas menikmati keindahan bukit Melawati peserta langsung menuju The Kabin.

Dari Bukit Melawati, bus kembali melaju dengan kecepatan maksimal membelah jalan tol menuju The Kabin Hotel. Begitu tiba di The Kabin, saya terharu sekaligus bangga ketika menyaksikan anak-anak tingkat sekolah menengah telah berbaris rapi menyambut kami sambil memukul rebana diiringi dengan shalawat atas Nabi Muhammad Saw. Menyaksikan ini, jujur ada rasa bangga dalam hati ketika panitia tetap memasukkan unsur islaminya dalam acara fam trip seperti ini. Good Luck Gaya Travel.
Mereka memainkannya dengan sangat semangat

PEMBUKAAN RENTAK SELANGOR
“Tiiiiing....tiiiiing....tiiiing. Ting.........ding............diingggg...........kliiiinggg.”
Suara Gamelan bertalu-talu, memecah keheningan sore itu. Dari depan aula, pemain rebana sudah siap sedia untuk menyambut YB. Amiruddin Shari selaku pengurus Jawatan Kuasa Pembangunan Generasi Muda, Sukan, Kebudayaan dan Pembangunan Usahawan Selangor. Begitu YB. Amiruddin Shari tiba, anak-anak dengan cekatan memukul rebana dan suaranya kembali menggema menambah kemeriahan pembukaan acara Rentak Selangor.

Suka sama songket yang mereka pakai
Karena aktualisasi diri adalah kebutuhan setiap manusia. Ceklek

Pembukaan acara Rentak Selangor hanya berlangsung beberapa menit. Lalu dilanjutkan dengan penampilan Gamelan dan Wayang Kulit. Bagian inilah yang paling seru, karena para peserta bisa melihat langsung dan memainkan salah satu kesenian andalan Jawa ini. Cik Jemaan salah satu pemain Gamelan bercerita panjang lebar kepada kami bagimana kesenian Jawa ini bisa tiba dan menjadi salah satu kesenian warisan Jawa yang turut dilestarikan di Selangor.
YB Amiruddin Shari memainkan Gamelan

Peserta berbaur bersama untuk memainkan Gamelan

“Gamelan dan Wayang Kulit yang terdapat di Selangor ini sendiri dibawa oleh masyarakat Jawa yang dulunya berhijrah pada abad 19 ke Selangor. Selain Gamelan dan Wayang Kulit, juga ada kesenian Kuda Kepang dan Kompang. Semua kesenian ini dulunya di mainkan untuk membunuh rasa bosan di negeri perantauan. Hingga akhirnya, pemerintah Selangor ikut melestarikannya supaya tidak hilang ditelan masa” jelas Cik di hadapan peserta Rentak Selangor. “Untuk terus menghidupkan kesenian ini, di dirikan sebuah balai seni yang dijadikan pusat pelatihan Gamelan, Wayang Kulit, Kompang dan Kuda Kepang. Balai Seni ini akan dipenuhi oleh anak-anak dari tingkat sekolah dasar hingga menengah pertama untuk berlatih seminggu dua kali. “ Sambung Cik Jemaan dengan penuh semangat walau kulitnya sudah tampak begitu keriput.

Sambil menunggu malam menyapa, peserta Rentak Selangor kembali di ajak untuk memainkan Gamelan dan Wayang Kulit. Dan irama Gamelan kembali berdendang, memecah kesunyian The Kabin Hotel. Semua peserta larut dalam keasyikan memainkan Gamelan.

(Baca tulisan fam trip Rentak Selangor lainnya di sini)

..................................................................................................................................................................
Tulisan ini merupakan bagian dari keikutsertaan rahmataulia.com dalam Famtrip Rentak Selangor di Selangor, Malaysia, pada 9 – 11 Maret 2017. Acara ini merupakan program dari Jawatan Kuasa Pembangunan Generasi Muda, Sukan, Kebudayaan dan Pembangunan Usahawan Selangor bekerjasama dengan Gaya Travel Magazine



9 komentar: