Pulau Nasi, Pulau Eksotis di Ujung Barat Indonesia






“Sudah pernah dengar tentang Pulo Aceh?”

Jika belum,  pilihan Anda untuk membaca tulisan ini sangat tepat. Pulo Aceh adalah sebutan untuk dua puah pulau-Pulau Nasi dan Pulau Breuh-yang terletak di ujung barat Indonesia.

Pulau dalam bahasa aceh disebut dengan “pulo”, sedangkan “breuh” merupakan kata benda dalam bahasa aceh untuk menyebut kata "beras". Nah, saya pernah mendengar ada kisah tersendiri kenapa pulau ini dinamakan demikian. Tapi saya tidak berani menceritakannya di sini karena tidak mendengar langsung dari sumber terpercaya. Mungkin nanti, ketika saya balik lagi akan saya tanyakan sejarah penamaan kedua pulau ini.

Untuk menuju ke Pulo Nasi kita harus naik kapal atau boat dengan jarak tempuh satu setengah hingga dua jam. Dan satu-satunya kapal yang menyeberang ke Pulo Nasi adalah kapal papuyu, itupun hanya menyeberang tiga kali semiggu via pelabuhan di Ule Lheu.

Sementara itu, untuk menuju ke Pulo Breuh tidak ada pilihan lain selain harus menggunakan boat. Transportasi laut yang satu ini memuat lebih dari dua puluhan sepeda motor berikut muatannya yang lain. Dan alangkah malangnya saya ketika satu kali harus menghirup bau duren sepanjang dua jam lebih dalam perjalanan pulang menuju Banda Aceh.

Pulo Breuh dan Pulo Nasi punya keunikan masing-masing. Berhubung saya baru saja pulang dari Pulo Nasi jadi postingan ini khusus mengulas tentang keunikan Pulo Nasi saja. 

Apa Yang Menarik Dari Pulo Nasi?

Jika ada yang tanya apa yang menarik dari Pulo Nasi maka ada banyak hal unik pada pulau ini. Kalau kamu berniat jalan-jalan ke Pulo Nasi, alokasikanlah waktu sehari penuh supaya bisa eksplore keseluruhan pulau ini.

Dan selama  satu hari dua malam menjadi warga Pulo Nasi, saya betul-betul terkesan pada lima hal berikut ini.

Pasi Janeng, Pantai Eksotis Dalam Rimba Tuhan


Walaupun pantai adalah pemandangan yang biasa saya lihat di Banda Aceh tapi ketika melihat Pantai Pasi Janeng mata saya tetap terpana. Sumpah, ini pantai keren sekali (baca dengan ekspresi takjub).

Pasirnya putih, sebagian airnya biru langit dan sebagian lagi biru keputih-putihan. Ketika dipandang dari atas semakin menambah keelokan tempat ini.

Sayangnya belum banyak wisatawan yang berkunjung ke Pulo Nasi, jadinya pantai seindah ini yang tahu hanya segelintir orang. 

Pasi Janeng ini posisinya tidak begitu jauh dari pelabuhan Pulo Nasi. Mungkin hanya lima menit berkendara. Jadi menemukannya tidaklah sulit. 



Milky Way, Taburan Bintang di Langit Tuhan

 

Kita tidak akan bisa melihat Milky Way jika langit suatu daerah ditutupi awan polusi atau pencahayaan yang terlalu terang layaknya kota besar. 

Berbeda halnya di Pulo Nasi, saban malam jika tidak mendung kita bisa menyaksikan milky way. Taburan bintang di angkasa dengan jumlah yang banyak sekali. Sanking banyaknya kamu nggak akan sanggup menghitungnya. Tapi kalau kamu orang yang suka tantangan, cobalah sekali-kali menantang dirimu untuk menghitung bintang di langit Pulo Nasi.

Menyantap Durian Leumak Mabok


Saya baru tahu kalau di Pulo Nasi ada durian. Selama ini durian yang masuk ke Banda Aceh adalah durian dari Lhong dan Tangse, Pidie. Ternyata di Pulo Nasi ada juga durian yang lezatnya mengalahkan durian dari kedua daerah tersebut (versi saya).

Syekh Bit, pemilik kebun durian yang kami sambangi adalah tipikal orang ramah yang hanya dalam waktu puluhan menit telah berhasil membuat kami seolah sudah cukup lama kenal dengannya.

Syekh Bit ini juga sudah cukup lama menjadi pelatih tari Likok Pulo. Bahkan dia pernah di undang ke Belanda untuk di wawancarai tentang sejarah tari asal Pulo Aceh ini. Saat ini, pada Sabtu dan Minggu Syekh  aktif mengajar tari likok pulo di Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Aceh.

Bagi saya, Syekh Bit ini bisa dijadikan sosok panutan untuk belajar arti sederhana. Ia yang sudah pernah menginjakkan kaki di Eropa dan tampil dimana-mana tetap merendah diri dan tampil adanya. Khas warga pulau sekali.

Ada satu jenis durian yang dinamakan durian leumak mabok, sekali menyantap duren ini akan membuat kita bagaikan orang mabuk-begitu kata Syekh.

Sayangnya, kami belum berkesempatan menyantap duren jenis ini. Sudah lebih dari empat jam menunggu, duren leumak mabok masih enggan menyentuh tanah.

Namun apakah benar adanya duren jenis ini, hanya Syekh Bit yang tahu kebenarannya.

Surganya Bagi Para Pemancing


Adalah Juli, pemuda Pulo Nasi yang telah berbaik hati menjadi guide kami selama di Pulo Nasi. Juli membawa kami ke suatu tempat yang dinamakan Lhok Kaca Kacu. Lhok Kaca Kacu inilah yang menjadi surga bagi para pemancing. Ketika sampai di sini, Juli menampakkan fotonya sedang memegang seekor ikan yang cukup besar berikut beberapa foto lainnya dengan ikan berukuran sama.

Walau bukan pemancing mania, tapi saya begitu yakin kalau di Lhok Kaca Kacu memang banyak ikannya. Apalagi setelah Juli menampakkan fotonya memegang ikan besar.

Next kalau ke sini lagi wajib memancing di Lhok Kaca Kacu.

Warga Pulau Ramah-Ramah, Benarkah Itu?

Syekh Bit

Saya sudah membuktikan bahwa warga pulau itu ramah-ramah. Perjumpaan dengan Juli, Syekh Bit dan beberapa penduduk Pulo Nasi membuktikan teori ini benar adanya.

Saya terkesima ketika Syekh Bit memberikan duren di kebunnya yang sangat lezat secara percuma. Saya pun salut dengan kebaikan hati Juli membawa kami keliling Pulo Nasi selama satu hari penuh tanpa sedikitpun mengeluh lelah atau bosan.

P.S All Photo Taken by Mustawazier Mustafa









8 komentar:

  1. Hawa lagi kami ke sana, cantik x pesona pulo aceh kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak. Sbgai warga Aceh Besar saya merasa bangga skali punya Pulo Aceh.

      Hapus
  2. Yayaya...
    Cukop bereh gamba jih. Jelah, trang dan meuwarna. Ukuran oh ta kalon teugoda...

    BalasHapus
  3. aduhhhh nggak sabaran pengen ke sanaaaaa.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pigi terus kk Ihan, bagusnya pas musim duren prginya.

      Hapus