Metamorfosis Rahmat Aulia, dari Bloger ke Marcom ACT



Penulis : Ihan Nurdin

PRIA muda berkemeja merah marun dan celana jeans hitam itu tampak paling sibuk di antara kami. Usai santap siang di salah satu restoran di Kompleks Bandara Soekarno Hatta, Jakarta ia meminta satu persatu KTP kami. Sejenak kemudian ia bergegas. Menghilang di antara lalu-lalang manusia.

Beberapa saat kemudian kembali lagi dengan beberapa lembar boarding pass keberangkatan kami ke Lombok, Nusa Tenggara Barat pada pukul 20.00 WIB nanti, Senin (24/09/2018).

Dialah Rahmat Aulia. Pria berusia seperempat abad itu merupakan Marketing Communication, istilah keren untuk ‘humas’ di lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap atau ACT Cabang Aceh. Sejak Januari 2018 lalu, pemuda asal Montasik, Aceh Besar itu berkhidmat di lembaga yang hadir di Aceh sejak 2017 itu.

Dia pula yang menjadi pendamping lima jurnalis Aceh yang dikirim ACT untuk meliput kondisi terkini di Lombok usai diguncang gempa pada awal Agustus lalu. Dengan posisinya itu, wajar saja jika Rahmat menjadi yang tersibuk. “Maaf ya bila pelayanannya kurang maksimal.” Entah beberapa kali ia mengucapkan kalimat itu.

Sebelum bekerja di ACT, pria berkaca mata yang akrab disapa Rahmat itu merupakan seorang bloger yang kerap bertungkus lumus dengan dunia literasi. Wajar saja bila ia mempunyai kecakapan di bidang tulis menulis. Ini pula yang membuat tulisannya mengenai Nyak Sandang beberapa waktu lalu berhasil menarik perhatian banyak orang. Tulisan itu viral di internet.

“Itu pengalaman paling berkesan selama bekerja di ACT,” ujar Rahmat saat berbincang dengan aceHTrend dan rekan jurnalis lainnya.

Memanfaatkan waktu transit di Jakarta, sembari menikmati suguhan kopi di lobi D’Prima Hotel, kami membincangkan banyak hal mulai dari yang remeh-temeh hingga yang serius. Soal Nyak Sandang tadi misalnya, Rahmat bercerita bila itu merupakan pengalaman pertamanya melakukan advokasi di bidang sosial. Ia tak menyangka bila tulisannya viral dan berhasil menghimpun dana hingga Rp70 juta melalui kitabisa.com untuk merehab tempat tinggal Nyak Sandang.

Sekadar mengembalikan ingatan kita, Nyak Sandang merupakan lansia asal Lamno, Aceh Jaya yang pernah menjual sepetak tanahnya untuk mendukung Pemerintah RI membeli pesawat Seulawah R-001 dan Seulawah R-002. Cikal bakal maskapai Garuda Indonesia.

“Waktu saya menuliskan kisah Nyak Sandang itu benar-benar fokus dan serius, saya membutuhkan waktu hingga tiga hari untuk menyelesaikannya agar tulisan yang saya buat menjadi karya yang bagus,” ujar alumnus FISIP Unsyiah itu.

Bekerja di lembaga kemanusiaan, diakui Rahmat memang memiliki tantangan tersendiri. Apalagi ini merupakan dunia baru baginya. Pertama kalinya bekerja fulltime secara profesional. Namun ia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang jadwal bekerjanya terbilang ‘fleksibel’. Dengan latar belakang pendidikan ilmu komunikasi dan ‘bekal’ sebagai bloger, membuatnya mudah bergaul dengan siapa saja.

“Banyak hal-hal tak terduga selama bekerja di sini, bertemu orang-orang baru, bahkan meng-handle pekerjaan-pekerjaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya seperti membuat konser kemanusiaan untuk menggalang donasi bagi Lombok,” ujarnya lagi.

Begitulah cara ia mendedikasikan dirinya untuk kemanusiaan. Ini pula yang membuatnya tak berhenti ‘mengompori’ kami agar bisa maksimal saat berada di Lombok nanti. Semoga.[]

Tulisan ini sudah pernah dimuat di https://www.acehtrend.com/2018/09/24/metamorfosis-rahmat-aulia-dari-bloger-ke-marcom-act/

6 komentar:

  1. Bereh li dek rahmat nyan, meu Aulia meunan #rahmatAulia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, semoga bek hanya "meunan" tapi beu beutoi2 Aulia

      Hapus
  2. Balasan
    1. Segan kalau udh senior yg komen, apa kabar bg Ubai?

      Hapus