Ziarah ke Makam Teuku Umar



Matahari belum sepenggalah ketika kami memacu motor dari Kota Meulaboh menuju Gampong Mugo Rayeuk, Kecamatan Panton Reu, Aceh Barat. Tujuan kami pagi itu adalah menyambangi pembaringan terakhir pahlawan nasional dari Aceh, Teuku Umar.

Saya bersama tiga orang teman sudah jauh-jauh hari merencanakan ke Meulaboh pada libur semester ini. Semuanya berawal dari ajakan Mizan Asriadi, teman kami yang berasal dari Meulaboh untuk jalan-jalan ke daerahnya.

Lantas saya mengusulkan agenda utama ke sana untuk menyambangi Makam Teuku Umar. Biar liburan ini jadi pembelajaran sejarah bagi kami. Toh, dari kami berempat cuma Mizan yang pernah ziarah ke sana, itu pun sudah lama sekali.


Menurut catatan sejarah. Satu dari sekian pahlawan Aceh yang dengan gigih melawan Belanda adalah Teuku Umar. Sejarah mencatat, suami Cut Nyak Dhien ini menerapkan taktik yang seringnya membingungkan pihak lawan maupun kawan dalam perang melawan Belanda.

Teuku Umar terlibat dalam Perang Aceh melawan Belanda sejak 1873 atau ketika usianya baru memasuki angka 19.

Ia pernah menyeberang ke kubu Belanda sehingga membuat pasukan Aceh, termasuk Cut Nyak Dhien, bingung. Namun, ternyata itu hanya siasat Teuku Umar saja untuk menggelabui Belanda. Taktik seperti ini dilakukan Teuku Umar dua kali. Pada kali kedua, ia berhasil  membawa lari 880 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kilogram mesiu, 5.000 kilogram timah, uang tunai, dan peralatan perang lainnya, untuk menambah kekuatan rakyat Aceh (Sumber, tirto.id).

Setelah menempuh perjalanan hingga satu jam, tibalah kami di Gampong Mugo. Ada satu gerbang besar yang menyambut kedatangan kami, sekaligus sebagai penanda bahwa makam Teuku Umar sudah dekat.



Ternyata kendaraan tidak diperkenankan masuk hingga ke makam. Sehingga kami harus jalan kaki sekitar 300 meter dengan naik turun tangga yang dipenuhi lumut. Beberapa kali teman saya hampir terpeleset karena medan yang cukup licin.


Begitu tiba di makam. Aura mistis langsung terasa. Disekeliling makam dipenuhi oleh pohon besar yang menjulang tinggi ke angkasa.


Teuku Umar menghembuskan nafas terakhir di Suak Ujung Kalak pada 11 Februari 1899, tepat 119 tahun silam setelah diterjang oleh timah panas Belanda dari dua arah.

Dari ukiran batu prasasti 5x1 meter dekat makam Teuku Umar dijelaskan bahwa tentara Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Van Heut SZ telah menunggu di Suak Ujung Kalak dan terjadi tembak menembak. Teukoe Oemar terlihat memegang dadanya sebelah kiri yang berlumuran darah. Teukoe Oemar menghembuskan nafas yang terakhir. Jenazahnya dilarikan oleh pengikut setianya ke Pucuk Lueng Suak Raya. Terus ke Ranto Panyang, ke Reudeup kemudian ke Pasi Meugat dan dikembumikan di samping makam ibunya. Setelah enam bulan dipindahkan ke Gunung Glee Meulinteung di Desa Mugo. Setelah delapan bulan jenazahnya yang terakhir dipindahkan ke Gunung Glee Rayeuk Tameeh di Mugo Rayeuk Kawai XVI.


  

Ketika tiba, kami tidak melihat satu orang pun di seputaran makam. Maklum saja, waktu itu jam masih menunjukkan pukul sembilan lewat sedikit.

Namun tidak berselang lama, datanglah seorang bapak yang mengenakan kemeja lengan pendek , bersarung serta mengenakan peci.

Dari gerak-geriknya kami menduga beliau adalah penjaga makam. Lantas kami menyapanya dengan mengucapkan salam, memperkenalkan diri serta menjelaskan maksud kedatangan. Dan benar saja, laki-laki yang akrab disapa Abu ini marupakan penjaga makam Teuku Umar dan tinggal di permukiman dekat makam. Bahkan tak jarang beliau malah tidur di balai areal makam. Dari guratan wajahnya, saya menebak umur beliau kisaran 45 s.d 50 tahunan. 


“Kadang-kadang sengaja nggak pulang. Istirahat di sini. Ada beberapa balai di sini yang bisa dipakai untuk istirahat karena ada kamarnya. Kadang saya tidurnya sendiri dan sering juga ditemani sama beberapa anak muda gampong.” Ujar Abu.

Saya sendiri sulit membayangkan Abu bisa seberani itu bermalam di sini. Ketika pagi saja, suasananya cukup mistis apatah lagi malam hari.

Setelah mengobrol panjang lebar, kami ditawari untuk makan siang di salah satu balai. Kebetulan ada masyarakat yang melaksanakan hajatan dengan menyembelih seekor kambing. Awalnya kami menolak secara halus, takut merepotkan. Namun Abu dengan tulus tetap mengajak kami untuk makan bersama. Kami pun sepakat untuk menyantapnya bersama.

Setelah puas menyantap makan siang kami pun pamit, kembali ke Kota Meulaboh. Dari Abu kami belajar banyak hal terutama tentang sejarah Teuku Umar.





1 komentar: