Membentuk Hubungan Harmonis Antara Ayah dan Anak



Di tempat saya lahir dan tumbuh besar, ada satu kearifan lokal yang masih dipertahankan dari belasan tahun hingga detik ini. Kearifan lokal yang telah terbukti ampuh membuat hubungan orang tua dan anak menjadi harmonis.

Adalah satu aib di gampopng kami, Gampong Dayah Daboh, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar apabila matahari mulai tenggelam dan azan akan berkumandang, masih ada anak-anak yang berkeliaran di luar. Ini adalah aturan yang tidak tertulis tapi masyarakat secara kolektif sepakat untuk patuh.

Saya masih ingat sekali, belasan tahun silam. Saban sore, Mak akan memanggil nama saya berulang kali dengan suara yang cukup keras apabila saya belum pulang. Saya yang kebetulan tengah asyik bermain dengan kawan, lupa kalau perlahan matahari mulai menunjukkan semburat jingganya. Mendengar suara Mak, saya langsung bergegas pulang. Kembali ke rumah.

Tiba di rumah, tanpa perlu komando saya langsung bersih-bersih, siap-siap menuju meunasah (penyebutan mushalla dalam Bahasa Aceh).

Selepas shalat maghrib. Kami semua kembali ke rumah. Tidak boleh ada anak yang berkeliaran di luar.

Di rumah, kami berkumpul bersama keluarga. Saya yang masih kecil belajar mengaji sama ayah. Mak biasanya membaca Al-Qur’an disamping menyiapkan penganan untuk disantap bersama. Selepas belajar ngaji, jika ada PR (pekerjaan rumah) maka saya akan mengerjakannya, sesekali dibantu oleh kakak.

Berkumpul selepas maghrib ini adalah momen yang dinanti-nantikan oleh seluruh anggota keluarga, biasanya akan banyak cerita seru terkait kegiatan seharian tadi.

Dari sini pula awal mula saya jatuh cinta dengan buku. Lahir dan tinggal di sebuah dusun yang jauh dari kota, saya kesulitan mengakses buku bacaan. Untungnya, saya punya kakak yang rajin meminjam buku dari perpustakaan sekolahnya, walaupun itu novel-novel teenlit yang penuh dengan bumbu-bumbu percintaan ala remaja. Tapi saya menikmatinya sebagai bacaan yang mengasyikkan ketika itu.

Gegara santapan saya ketika masih duduk di bangku SMP  adalah novel teenlit. Begitu duduk di bangku SMA, tulisan pertama saya adalah tentang puisi yang mendayu-dayu. Saya masih ingat sekali ketika saling bertukar puisi dengan teman via email. Membaca rentetan puisi kala itu sukses membuat perut ini ngakak.

Berkumpul setelah maghrib ini juga menjadi momen saya bertanya banyak hal ke Ayah. Untuk urusan bertanya, saya selalu mengandalkan Ayah. Saya masih ingat sekali ketika bertanya banyak pertanyaan lucu khas anak-anak, misalnya “Ayah siapa yang lebih kuat antara singa dengan gajah?”. Dengan sabar Ayah akan menjawab setiap pertanyaan saya.

Mungkin kondisinya akan berbeda dengan sekarang, di mana sejak kecil anak-anak sudah diberikan gawai oleh orang tua. Apapun yang membingungkan bisa dengan mudah dicari di mesin pencari gawai. Jika dibiarkan, faktor ini akan membuat kesenjangan hubungan antara orang tua dengan anak.
Kebiasaan berkumpul setelah maghrib ini membuat hubungan kami menjadi harmonis. Kami percaya, salah satu faktor yang membuat hubungan keluarga menjadi harmonis adalah sering berkumpul bersama. Membicarakan banyak hal walaupun terkadang hal konyol.

Artikel ini sudah pernah di muat di https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/view&id=249900708  tayang kembali di sini dengan beberapa penyuntingan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar